Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Ribuan Korban masih Terkubur

Putri Anisa Yuliani
02/10/2018 07:20
Ribuan Korban masih Terkubur
DAMPAK LIKUIFAKSI DI PETOBO: Warga melintas di kawasan perumahan yang porak-poranda di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, kemarin. Bangunan di perumahan tersebut sebagian besar rata dengan tanah akibat adanya likuifaksi.(ANTARA/AKBAR TADO)

BENCANA yang melanda Palu, Donggala, dan wilayah sekitarnya di Sulawesi Tengah, Jumat (28/9), ternyata bukan hanya gempa bumi dan tsunami. Dampak dari getaran berkekuatan 7,4 pada skala Richter (SR) yang melanda wilayah itu memunculkan pula fenomena lain yang melahirkan bencana susulan.

Menurut sejumlah saksi, beberapa detik setelah gempa 7,4 SR mengguncang Palu, di kawasan Perumnas Balaroa dan Kelurahan Petobo terlihat semburan air cukup tinggi. Setelah itu, tiba-tiba permukaan tanah menurun dan seluruh benda di atasnya ikut ambles. Ratusan rumah pun terkubur. Beberapa bangunan seperti masjid bergeser sekitar 50 meter jauhnya dari posisi semula.

"Istri dan anak-anak saya tidak bisa diselamatkan. Saya perkirakan mereka terperangkap di dalam rumah lalu digulung tanah," kata Husnan, salah seorang keluarga korban, kemarin.

Saat kejadian, Husnan tengah berada di kantornya, sedangkan istri dan anak-anaknya di rumah.

Akibat fenomena tersebut, ribuan korban diperkirakan masih terkubur. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho membenarkan fenomena itu dan menyebutnya sebagai gejala likuifaksi.

"Ya, ada satu kelurahan rumahnya ambles, lenyap masuk ke tanah disebabkan likuifaksi," kata Sutopo, kemarin.

Likuifaksi, menurut Sutopo, ialah keadaan di saat lumpur di dalam perut bumi memancar keluar dan membuat ruang kosong sehingga bangunan atau benda apa pun yang ada di atasnya akan bergeser hingga tenggelam perlahan (lihat grafik).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Palu Fresly Tampubolon mengatakan dua dae-rah yang dilanda likuifaksi, Balaroa dan Petobo, merupakan pusat kerusakan paling dahsyat. Ratusan rumah dan fasilitas publik di titik itu tertimbun tanah bak ditelan bumi.

Kondisi yang sama juga terjadi di Kelurahan Kawatuna. Namun, di lokasi itu dilaporkan gejalanya disertai air sehingga belum memungkinkan disentuh tim penanggulangan bencana.

Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said mengatakan belum tersentuhnya titik-titik bencana terparah itu karena akses yang terputus.

Terisolasi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana, kemarin, juga mencatat tujuh kecamatan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terisolasi. Ketujuh kecamatan itu ialah Lindu, Kulawi, Kulawi Selatan, Dolo Barat, Dolo Selatan, Gumbasa, dan Salua.

Akses jalan darat menuju keca-matan itu terputus akibat tanah longsor dan gempa. "Bantuan belum bisa menyentuh tujuh kecamatan itu," kata Sutopo Purwo Nugroho.

Hingga hari ketiga pascagempa, jumlah korban meninggal dunia dilaporkan telah mencapai 844 orang. Selain itu, 48.025 orang dilaporkan mengungsi, yang tersebar di 103 titik di Kota Palu. BNPB memperkirakan kerugian akibat bencana di Sulawesi Tengah itu mencapai puluhan triliun rupiah. (MTVN/Ant/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya