Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Belajar dari Kasus Asmat, Daerah Diminta Perbaiki Tata Kelola

Indriyani Astuti
15/5/2018 18:25
Belajar dari Kasus Asmat, Daerah Diminta Perbaiki Tata Kelola
(ANTARA)

KEJADIAN luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Asmat, Papua, menjadi pelajaran bagi daerah lain. Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kesehatan Usman Sumantri mengatakan masalah kesehatan yang terjadi di Asmat tidak lepas dari pengelolaan tata kelola daerah yang belum baik.

"Ada biaya kesehatan tanpa pengelolaan yang baik tidak akan optimal. Asmat dari sisi anggaran memadai," ujar Usman dalam diskusi bertajuk Pelajaran dari Asmat, Sinergi Berkelanjutan untuk Papua Mandiri yang diselenggarakan di Kantor Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Jalan Sam Ratulangi No 29 di Jakarta, Selasa (15/5).

Usman memaparkan biaya kesehatan di kabupaten Asmat cukup memadai. Dilihat dari Dana Alokasi Khusus untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Asmat untuk rujukan regular pada 2017 sebesar Rp3,1 miliar dengan realisasi Rp2,5 miliar. Kemudian, di 2018 alokasinya naik menjadi Rp8,8 miliar.

Infrastruktur pun, ujar Usman, cukup baik untuk fasilitas pelayanan kesehatan. Pasalnya, sudah ada satu RSUD dan 16 puskemas. Dari 16 puskesmas, ada 13 yang berfungsi, sedangkan tiga lainnya belum terdaftar. Sayangnya fasilitas kesehatan masih kekurangan tenaga dokter.

"Tanpa tenaga kesehatan yang memadai, infrastuktur untuk kesehatan tidak bisa digunakan dengan maksimal. Dari 13 puskesmas hanya ada 7 dokter, 164 perawat, masalahnya tidak ada tenaga gizi. Padahal masalah di Asmat salah satunya gizi," ucap Usman.

Usman menyimpulkan bahwa masalah di Asmat bukan hahya masalah kesehatan tapi dipengaruhi masalah lain. Dia mencontohkan dalam pemenuhan gizi berkaitan dengan ketahanan pangan. Kendalanya, kondisi geografis di sana tidak memungkinkan masyarakat menanam bahan pangan.

"Sebagian besar wilayahnya rawa mereka sulit bercocok tanam. Butuh peran Kementerian Pertanian untuk terlibat," imbuh dia.

Selain itu, minimnya pengetahuan dari masyarakat juga berpengaruh pada gizi. Semakin baik pendidikan masyarakat, semakin baik pula pemahaman mereka akan kesehatan dan gizi.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga Maret 2018 tercatat pasien meninggal karena campak berjumlah 66 anak dan karena gizi buruk berjumlah 10 anak.

Usman mengatakan pihaknya mengindentifikasi ada 17 daerah lain di Papua yang kondisinya hampir sama dengan Asmat. Apabila tidak tertangani dengan baik tidak menutup kemungkinan akan muncul masalah kesehatan seperti di Asmat. (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya