Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH lama ditunggu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikud) secara resmi mengakui adanya penurunan hasil nilai Ujian Nasional (UN) jenjang SMA sederajat tahun 2018. Penurunan terjadi terutama pada mata pelajaran matematika, kimia dan fisika.
“Berdasarkan analisis kami ada indikasi kuat bahwa penurunan rerata nilai UN disebabkan oleh dua faktor, “kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud Totok Suprayitno pada konferensi pers tentang hasil UN SMA sederajat di Kemendikbud Jakarta, Selasa (8/5).
Acara yang dipandu Sekjen Kemendikbud Didik Suhardi tersebut dihadiri Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad, Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Bambang Suryadi, Sekretaris Balitbang Dadang Sugiarto, Kepala Pusat Penilaian dan Pendidikan M Abduh, Direktur Pembinaan SMA Purwadi serta Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat (BKLM), Ari Santoso.
Totok menjelaskan dua faktor penurunan nilai UN 2018 yakni pertama adanya soal dengan daya nalar tinggi atau High Order Thingking Skills (HOTS). Tipe soal tersebut dinilai mempunyai tingkat kesulitan cukup tinggi oleh para peserta, kendati hanya sedikit soal tersebut dalam UN.
“Kesulitan model HOTS ini dialami oleh siswa pada 50 persen sekolah yang ditunjukkan dengan rerata nilai UN menurun. Tetapi nilai UN di 50 persen sekolah lainnya justru mengalami kenaikan. Secara agregat faktor kesulitan ini tampaknya berpengaruh kecil, “papar Totok.
Faktor kedua terjadinya perubahan moda ujian, dari UN Kertas dan Pensil ( UNKP) ke UN Berbasis Komputer (UNBK) Menurut dia dibandingkan faktor soal HOTS penyebab kedua ini lebih signifikan terhadap hasil UN 2018.
“Sekolah-sekolah yang semula UNKP dan berubah ke UNBK mengalami penurunan nilai atau terkoreksi) sangat signifikan. Sekolah-sekolah dengan indeks integritas rendah atau IIUN 2017 secara rerata terkoreksi nilainya sebesar 39 poin. Bahkan ada beberapa sekolah yang rerata nilai UN-nya turun hampir 50 poin,” jelasnya.
Hamid Muhammad, menambahkan sikap kritis siswa dalam menilai soal-soal yang diujikan merupakan sinyal untuk memfasilitasi dan mengarahkan sikap kritis tersebut menjadi kompetensi yang andal, sehingga siswa Indonesia menjadi siswa yang mampu berpikir secara kritis, kreatif untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
"Agar dapat menyelesaikan soal penalaran siswa tidak hanya perlu menguasai konsep tetapi juga perlu mengolah informasi yang disajikan untuk menemukan penyelesaian yang sesuai."
Hamid yang juga Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud menekankan hal terpenting yang perlu dilakukan dalam proses asesmen adalah menindaklanjuti hasil diagnosis dari UN tahun ini. Dia berjanji akan tetap menjadikan hasil diagnosis ini sebagai salah satu acuan dalam pembuatan kebijakan peningkatan proses pembelajaran.
“Satu hal positif yang perlu dicatata adalah bahwa hasil UN tahun ini semakin memberikan gambaran apa adanya tentang salah satu hasil belajar para siswa. Distorsi-distorsi pengukuran akan capaian siswa makin dapat dikurangi sehingga hasil UN tersebut bisa dijadikan pijakan yang lebih meyakinkan untuk perbaikan kualitas pendidikan ke depan,” tambah Hamid. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved