Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

1,7 Juta Anak Indonesia Belum Imunisasi Lengkap

Indriyani
29/4/2018 11:10
1,7 Juta Anak Indonesia Belum Imunisasi Lengkap
(ANTARA/Irwansyah Putra)

SEKITAR 1,7 juta anak belum mendapatkan imunisasi atau belum lengkap status imunisasinya, berdasarkan data dari Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI 2014-2016. Padahal pemberian imunasi sangat penting untuk menjaga kekebalan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengubah konsep imunisasi dasar lengkap menjadi imunisasi rutin lengkap. Pasalnya, imunisasi dasar saja tidak cukup untuk mempertahankan tingkat kekebalan yang optimal, perlu imunisasi lanjutan.

Menteri Kesehatan Nila F. Moelek mengatakan pemberian imunisasi rutin lengkap bertujuan untuk membentuk kekebalan masyarakat yang tinggi. Cakupan imunisasi dasar dan lanjutan itu menurutnya perlu dilakukan merata di seluruh wilayah, bahkan sampai tingkat desa.

"Bila tingkat kekebalan masyarakat tinggi, maka yang akan terlindungi bukan hanya anak-anak yang mendapatkan imunisasi tetapi juga seluruh masyarakat," ujar Nila yang disampaikan melalui siaran pers pada Sabtu (28/4) malam.

Ia menyebut imunisasi yang tidak lengkap menyebabkan anak-anak mudah tertular penyakit berbahaya karena tidak adanya kekebalan.

Pemberian imunisasi, imbuh Menkes, disesuaikan dengan usia anak. Untuk imunisasi dasar lengkap. Bayi berusia kurang dari 24 jam harus diberikan imunisasi Hepatitis B (HB-0). Vaksin Hepatitis B (HB) diberikan untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang dapat menyebabkan pengerasan hati yang berujung pada kegagalan fungsi hati dan kanker hati.

Kemudian, bayi usia 1 bulan diberikan (BCG dan Polio 1), usia 2 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 1 dan Polio 2), usia 3 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 2 dan Polio 3), usia 4 bulan diberikan (DPT-HB-Hib 3, Polio 4 dan IPV atau Polio suntik), dan usia 9 bulan diberikan (Campak atau MR).

"Polio tetes diberikan 4 kali pada usia 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan untuk mencegah lumpuh layu. Imunisasi polio suntik pun diberikan 1 kali pada usia 4 bulan agar kekebalan yang terbentuk semakin sempurna."

Selain itu, ada juga Imunisasi BCG yang diberikan guna mencegah penyakit tuberkulosis.

Sedangkan imunisasi lanjutan yang diberikan kepada bayi bawah dua tahun (baduta) yakni imunisasi (DPT-HB-Hib dan Campak/MR) pada bayi 18 bulan.

Setelah masuk SD, imunisasi lanjutan diberikan yaitu (DT dan Campak/MR) untuk kelas 1 SD dan untuk kelas 2 dan 5 SD/madrasah/sederajat diberikan.

Imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak yang dapat mengakibatkan radang paru berat (pneumonia), diare atau menyerang otak. Saat ini sudah ada Imunisasi Meases Rubella (MR) yang diberikan oleh pemerintah untuk mencegah penyakit campak sekaligus rubella.

"Rubella pada anak merupakan penyakit ringan, namun apabila menular ke ibu hamil, terutama pada periode awal kehamilannya, dapat berakibat pada keguguran atau bayi yang dilahirkan menderita cacat bawaan, seperti tuli, katarak, dan gangguan jantung bawaan," terang Menkes.

Selain itu menkes juga mengingatkan pemberian vaksin DPT-HB-HIB guna mencegah 6 penyakit, yakni Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, serta Pneumonia (radang paru) dan Meningitis (radang selaput otak) yang disebabkan infeksi kuman Hib. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya