Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Karya Napi Melintas Tanpa Batas Pancing Keharuan

Dero Iqbal Mahendra
23/4/2018 23:00
Karya Napi Melintas Tanpa Batas Pancing Keharuan
Sejumlah narapidana menampilkan tarian dalam acara puncak Indonesia Prison Art Festival 2018, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (23/4) malam. Festival yang menampilkan karya para napi itu baru pertama kalinya digelar di dunia.(Dero Iqbal Mahendra/MI)

SENYUM semringah kepuasan hingga tawa lepas terpancar dari para pemeran Drama Musikal bertajuk Merah Putih Narapidana, Kami Berkarya Maka Kami Ada.

Lelah kerja keras tanpa hilang harapan untuk berkarya telah membuahkan hasil menjadi rekor dunia. Pertunjukan teater dan tarian pada Senin (23/4) malam itu melibatkan 152 narapidana dalam acara puncak Indonesia Prison Art Festival (IPAFest) 2018.

Mulai dari pemain alat musik dengan berbagai instrumen hingga aktor merupakan warga binaan yang berperan aktif sepanjang pertunjukan. Hal tersebut memembuat budayawan Jaya Suprana sangat terkesan.

"Saya sudah menyaksikan berbagai pagelaran seni teater yang terbaik di dunia ini, di berbagai teater terkenal di dunia dan saya selalu terpana, dan terpesona menyaksikan pagelaran seni teater yang terbaik di dunia. Tetapi harus saya akui bahwa saya terkesima dan terpesona plus terharu hanya pada pagelaran hari ini," ujar Jaya Suprana di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (23/4) malam.

Jaya bertanya langsung kepada para pemain teater dan juga para musisi apakah mereka narapidana semua. Ketika di jawab 'iya' secara serentak, spontan ia menimpali mungkin ada baiknya kalau dirinya juga menjadi narapidana agar bisa mahir bermain musik. Gurauannya disambut gelak tawa dan tepuk tangan penonton.

Ia menilai sangat luar biasa bagi para narapidana untuk dapat menampilkan pertunjukan yang luar biasa pada malam hari ini. Jaya pun menyatakan bahwa pertunjukan tersebut tidak bisa diberikan sebagai rekor nasional, tetapi mestinya diganjar dengan rekor dunia.

Seketika itu seluruh pemain dan seluruh penonton bersorak dan bertepuk tangan meluapkan kegembiraan mereka secara spontan. "Saya belum pernah menyaksikan pertunjukan demikian indahnya, musiknya, aktingnya, dekorasinya dan semuanya," pungkas Jaya.

Dalam kesempatan yang sama sebelum dimulainya pertunjukan, Menteri Hukum Yasonna Laoly mengemukakan meski para narapidana terbatas dalam hal tempat, kreativitas mereka tidak boleh terbatas. Oleh sebab itu pihaknya membina dan mengarahkan para narapidana yang memiliki minat dan bakat baik dalam seni tari, teater, seni lukis membuat kerajinan dan lainnya.

"Mereka akan membuktikan walau tempat terbatas tetapi karya tetap melintas tanpa batas dalam dunia realitas," ujar Yasonna.

Drama Musikal bertajuk Merah Putih Narapidana, Kami Berkarya Maka Kami Ada menjadi sajian utama IPAFest 2018. Pertunjukan itu  menyiratkan makna bahwa narapidana tetap warga negara Indonesia yang cinta merah putih serta memiliki semangat untuk menjadi warga negara yang diakui eksistensinya.

"Acara ini menunjukkan bahwa tembok lapas, rutan bukanlah penghalang untuk berpartisipasi dalam pembangunan narapidana. Di dalam tembok jeruji warga binaan dimanusiakan. Diberikan kegiatan, pelatihan dipekerjakan, difasilitasi hingga menyalurkan bakatnya dan pada saatnya hasil mereka ditampilkan dalam event-event yang dilakukan oleh direktorat jendral pemasyarakatan," pungkas Yasonna.

Rangkaian acara IPAFest 2018 lainnya meliputi teater, seni musik, seni tari, pameran hasil karya narapidana, pameran lukisan, pameran arsip dan museum pemasyarakatan, pameran fotografi, talkshow, serta festival kuliner. Acara yang melibatkan sebanyak 450 narapidana dari 36 lapas/rutan seluruh Indonesia itu akan berlangsung pada pukul 10.00 WIB sampai dengan 22.00 WIB, Rabu (24/4). (A-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya