Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMISI Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengaku akan terus melakukan pengawasan atas penanganan kasus tawuran yang melibatkan 15 siswa SD di Purwakarta. Pengawasan akan dilakukan melalui dinas pendidikan dan instansi terkait.
"Hal ini tentu saja mencoreng dunia pendidikan kita," ujar Komisioner KPAI Retno Listyarti, Sabtu (21/4). KPAI menyayangkan kejadian tawuran dengan menggunakan senjata tajam itu bisa terjadi. Apalagi, masalah yang menjadi pemicu diduga hanya karena perselisihan sepele.
Retno mengatakan KPAI mendorong pihak kepolisian tetap mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak dan memproses kasus ini dengan menggunakan UU No. 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).
Peristiwa tersebut, kata dia, seharusnya menjadi momentum bagi semua pihak untuk melakukan evaluasi terkait pola asuh dan pendidikan di keluarga serta di sekolah. Ia mengatakan ada rantai kekerasan akan sulit diputus jika masih banyak orang tua dan guru menganggap bahwa kekerasan diperlukan dalam mendidik dan mendisiplinkan anak.
"Perilaku anak adalah meniru atau menduplikasi lingkungannya tempat dia dibesarkan. Ketika guru dan orangtua beranggapan bahwa mendidik dan mendisiplinkan harus dilakukan dengan kekerasan, anak belajar dari orang dewasa bahwa menyelesaikan masalah dengan kekerasan," ujar Retno.
Padahal, lanjut Retno, jika mempertimbangkan perkembangan mental di usia anak sekolah, orang tua justru harus mengedepankan reward, bukan hukuman. Anak akan melakukan perubahan perilaku kearah yang lebih baik jika dilakukan disiplin positif dalam mendidik anak.
"Gunakan reward sehingga anaak terus bersemangat melakukan kebaikan-kebaikan," ujar Retno.
Ia pun mengapresiasi masyarakat yang peka dan singgap melapor ke pihak aparat karena mencurigai sekelompok anak berkmpul dan membawa senjata tajam, saat tawuran itu terjadi. Berdasarkan penuturan saksi mata, para pelajar ini berkerumun di pinggir jalan di Kampung Baranangsiang, Kelurahan Sindangkasih sekitar pukul 10.00 WIB.
Yang membuat geger warga, para pelajar terlihat membawa sejumlah senjata tajam, seperti, parang, gir motor bekas, celurit, golok, gesper sabuk serta besi tumpul.
"Andai saja masyarakat bersikap acuh dan terjadi pembiaranan, maka potensi banyak korban yang terluka dan mungkin saja meninggal dunia," ujar Retno. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved