Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Anggapan Terlalu Sulit Membuat Sains Kurang Diminati

Indriyani Astuti
20/4/2018 21:55
Anggapan Terlalu Sulit Membuat Sains Kurang Diminati
(ANTARA)

MENTERI Riset, Teknologi Pendidikan Tinggi (Menristek) Mohamad Nasir mengatakan penyebab Indonesia masih kalah bersaing dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) karena minat pelajar Indonesia di bidang sains masih kurang. Sains masih dianggap sebagai hal yang sulit untuk dipelajari.

"Tingkat kompetensi kita untuk bidang sains yakni nomor 62 dari 71 negara.  Kita jauh tertinggal dari Vietnam yang sudah masuk ranking 10 besar," kata Menristek saat membuka kegiatan Indonesia Science Day (ISD) 2018 di PP-IPTEK, TMII, Jakarta pada Jumat (20/4).

Hasil itu, imbuh Menristek, didapat dari survei Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang mengukur tes di bidang matematika, membaca, dan sains dalam Programme for International Student Assessment (PISA).

Indonesia berada di peringkat 62 dalam bidang sains, 64 untuk membaca dan di posisi 63 untuk matematika. Posisi Indonesia berada di belakang Thailand yang ada di peringkat 54 (sains), 57 (membaca), dan 54 (matematika). "Artinya ada sesuatu yang salah dalam pembelajaran," ucap Menristek.

Padahal, jika dikemas dalam wahana permainan, Menristek yakin anak-anak akan tertarik untuk belajar mengenai iptek. Oleh karena itu, dia mendorong semakin banyak science park sebagai wahana peraga dari hasil penelitian dan inovasi.

"Di dalam iptek, belajar ilmu pengetahuan alam dianggap terlalu sulit karena anak-anak tidak bisa membayangkan bentuknya seperti apa. Dengan wahana peraga sambil bermain mereka mendapat ilmu pengetahuan dan membangun pola pikirnya," terang Menristek.

Di luar negeri, sambung dia, wahana sains selalu menampilkan inovasi baru kepada para pengunjung. Menristek pun percaya Indonesia dapat melakukan hal yang sama.

Atas alasan itu, dia mendorong adanya kerja sama antara Pusat Peraga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) dengan lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat (LPPM) perguruan tinggi, lembaga penelitian seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan instansi lainnya, serta industri dalam mengembangkan wahana peraga sains.

"Dengan begitu sains bisa secara lebih luas diperkenalkan kepada masyarakat," katanya.

Dengan membangun ketertarikan sains sejak dini, Menristek berharap rata-rata skor PISA Indonesia dapat membaik. "Indonesia meningkat menjadi 10 besar. Bukan nomor buncit," pungkasnya. (A-2)

Berita terkait : Menristek Ingin PP IPTEK menjadi Rujukan Nasional Pusat Peraga Sains



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya