Rabu 11 April 2018, 09:12 WIB

Sambiloto Berpotensi Jadi Obat Kanker

MI | Humaniora
Sambiloto Berpotensi Jadi Obat Kanker

Dok.MI
Tanaman Sambiloto

 

TANAMAN sambiloto (Andrographis paniculata) merupakan tanaman yang sering digunakan sebagai obat di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Penelitian-penelitian ilmiah juga menunjukkan sambiloto berpotensi untuk menekan pertumbuhan sel kanker yang aktif (efek antikanker).

Sambiloto terbukti menghambat penggandaan dan menginduksi kematian sel kanker payudara, hati, serviks, lambung, dan kolorektal. “Potensi sambiloto sebagai obat antikanker sangat menjanjikan, terlihat dari banyaknya penelitian-penelitian yang mengacu pada hal tersebut,” kata dokter Wening Sari dalam acara sidang umum sekaligus upacara promosi dirinya menjadi doktor bidang biomedis di Gedung Imeri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, awal April ini.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa untuk membuat sambiloto sampai menjadi obat kanker yang bisa digunakan untuk terapi, masih dibutuhkan banyak penelitian lanjutan dan proses pembuatan obat yang panjang.

“Salah satu proses pengujian yang harus dilakukan untuk menguji kelayakan sambiloto menjadi obat antikanker adalah dengan melakukan uji toksisitas untuk memastikan bahwa zat aktif yang terkandung dalam sambiloto tidak bersifat toksik (racun) bagi manusia,” kata Wening.

Berdasarkan penelitian disertasinya yang berjudul Efek Andrografolida dan Ekstrak Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) terhadap Viabilitas, Siklus Sel, serta Faktor Transkripsi Diferensiasi Bone Marrow Mesenchymal Stem Cells (BMMSC), Wening menyampaikan dengan konsentrasi 20, 40, dan 60 mikrogram/mL sambiloto memiliki efek toksik terhadap viabilitas, proliferasi, dan diferensiasi sel punca yang berasal dari sumsum tulang belakang.

Karena itu, konsumsi herbal sambiloto sebaiknya dihindari orang-orang yang sedang dalam penyembuhan patah tulang agar proses penyembuhannya sel-sel tulang yang melibatkan sel punca sumsum tulang belakang tidak terhambat oleh efek toksik dari sambiloto tersebut.

Penelitian lainnya dengan objek percobaan mencit juga menunjukkan bahwa ekstrak sambiloto menyebabkan kematian dan kelainan pada janin mencit. “Hal ini mengindikasikan konsumsi sambiloto pada ibu hamil dan ibu menyusui tidak disarankan,” ujar Wening.

Dengan adanya efek toksik tersebut, Wening menyimpulkan potensi pengembangan sambiloto sebagai obat antikanker masih terbuka luas mengingat hasil-hasil uji empirik yang telah dilakukan menunjukkan hasil positif. Ditambah lagi, sambiloto mudah dibudidayakan di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

“Namun, perlu adanya penelitian lanjutan mendalam dan proses pembuatan serta pengujian obat tersebut untuk sampai pada titik dapat digunakan dan aman bagi tubuh sebagai obat terapi antikanker.” (*/H-2)

Baca Juga

Ist/Kemendes PDTT

Kejar Ketertinggalan, Gus Halim: Pengelolaan RSNU Harus Profesional

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 10:16 WIB
Pengelolaan Rumah Sakit Nadhlatul Ulama (RSNU) selama ini relatif tertinggal dibandingkan dengan penyelenggara layananan Kesehatan milik...
dok.ist

Kornas Santri Dukung Ganjar Tebar Kebaikan di 11 Provinsi

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 09:30 WIB
SANTRI Dukung Ganjar kembali melakukan kegiatan berbagi kebaikan dengan memberikan sembako hingga nasi kotak kepada...
dok.Ant

Lima Tips Peserta UTBK-SBMPTN saat Hari H agar Sukses Tembus PTN Idaman

👤Faustinus Nua 🕔Senin 16 Mei 2022, 08:26 WIB
PELAKSANAAN UTBK-SBMPTN 2022 gelombang 1 akan dimulai pada Selasa (17/5). Dengan tersisa satu hari lagi, para peserta perlu mematangkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya