Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
PENANGANAN dan pencegahan bencana kesehatan di Papua ke depan sudah saatnya dilakukan secara berkelanjutan. Karena itu, Kementerian Kesehatan akan merekrut tenaga kesehatan untuk pemerataan pelayanan kesehatan di Papua pascabencana gizi buruk dan campak yang melanda Kabupaten Asmat.
Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (BPPSDM) Kementerian Kesehatan Usman Sumantri saat ditemui di Jakarta, Sabtu (27/1), mengatakan pihaknya akan menambah tenaga kesehatan tak hanya di Asmat tapi juga di Provinsi Papua secara keseluruhan.
"Dari segi SDM akan kita penuhi melalui dua cara yakni daerah harus memenuhi dan pusat juga memenuhi. Untuk yang perkotaan urusan daerah. Untuk yang di wilayah terpencil akan diintervensi pemerintah pusat. Itu nanti dilakukan setelah fase penanganan yang saat ini berlangsung. Kita akan kontrak tenaga kesehatan sekitar dua tahun. Jumlahnya kira-kira dibutuhkan ribuan tenaga kesehatan untuk se-Papua," ucapnya memaparkan hasil rapat rombongan Menkes dengan dinas-dinas kesehatan di Papua baru-baru ini.
Khusus untuk Kabupaten Asmat, saat ini tenaga kesehatan yang ada di 13 puskesmas hanya berjumlah 117. Itu terdiri atas 7 dokter, 94 perawat, 64 bidan, dan 12 tenaga kesehatan lain.
Adapun penduduknya berjumlah sekitar 114 ribu orang. Usman mengatakan angka ideal kecukupan tenaga kesehatan di Asmat yakni 20 tenaga kesehatan per satu puskesmas.
"Total tenaga kesehatan idealnya berarti sekitar 260. Yang ada sekarang 177. Itu sisanya kita tangani untuk menambah jumlahnya termasuk perawat, bidan, dan farmasi," ujarnya.
Ia menambahkan saat ini persoalan gizi buruk dan campak di Asmat sudah tertangani secara baik. Per Jumat (26/1) lalu, Kemenkes sudah menerjunkan tim flying health care (FHC) gelombang kedua yang bakal bertugas selama 10 hari.
"Dari Kemenkes mengirim 36 tenaga kesehatan. TNI ada sekitar 50 personil dokter umum. FHC kita siapkan 9 gelombang yang akan berlangsung sekitar 3 bulan. Timnya juga berganti terus supaya dokternya tidak kelelahan," jelasnya.
Sebelumnya, sebanyak 1.456 anak di 20 distrik dari total 23 distrik di Asmat telah berhasil diimunisasi campak pada gelombang pertama FHC. Selain imunisasi, mereka juga mendapatkan pemberian vitamin A dan makanan tambahan gizi.
Gelombang FHC kedua akan menyasar tiga distrik sisanya yakni Suru-Suru, Pulau Tiga, dan Kolf Braza. "Sekarang posisinya sudah di lapangan," tambah Usman.
Juru bicara Kemenkes Oscar Primadi mengatakan pasien di RSUD Agats, Asmat, per Sabtu (27/1), berjumlah 87 orang. Sebanyak 80 pasien menderita gizi buruk dan 7 pasien menderita campak.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved