Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 43 pasien anak dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat terpaksa dipindahkan ke Aula GPI Betlehem yang terletak di belakang RSUD Agats karena kapasitas rumah sakit tidak muat menampung keseluruhan pasien yang ada.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Oscar Primadi mengatakan dari laporan yang disampaikan oleh tim medis gabungan RSUD Agats dan dokter spesialis yang diturunkan Kemenkes, tercatat 43 anak dirawat di Aula GPI terdiri dari 33 anak dengan gizi buruk, 8 anak dengan gizi kurang, dan 2 anak terindikasi campak.
Hingga Minggu (21/01) Pukul 20:30 WIT, ujar Oscar, setidaknya terdapat 43 pasien anak yang tidak mendapatkan tempat sehingga mendapat perawatan di Aula GPI Betlehem.
"Meski demikian, penanganan pasien anak yang ditempatkan di GPI Betlehem tidak dibedakan. Para dokter dan petugas medis lainnya yang bertugas tetap melakukan kunjungan kepada pasien anak untuk melihat kondisi anak-anak serta memberikan pelayanan medis sesuai hasil diagnosis pemeriksaan," ujar Oscar di Jakarta, kemarin.
Dia melanjutkan, untuk mengantisipasi kemungkinan kiriman pasien anak dengan gizi buruk lainnya yang dirujuk dari distrik lain di sekitar Agats, sejak minggu pagi pihak RSUD telah membangun ruang darurat dengan memanfaatkan halaman dan tempat parkir motor GPI Betlehem.
Meski begitu pemeriksaan terhadap 43 anak yang menempati Aula GPI Betlehem terus berlanjut. Tim kesehatan terus memantau kondisi pasien anak-anak di sana. Pemeriksaan imbuh dia, mencangkup pengukuran berat badan, tinggi, usia, juga pemeriksaan fisiologis untuk menentukan formulasi asupan masing-masing anak.
"Meski anak-anak yang ditampung di GPI Betlehem adalah anak dengan gizi buruk dan gizi kurang namun terapi gizi yang diterapkan kepada masing-masing anak berbeda-beda disesuaikan dengan usia, berat badan, dan kondisi penyerta lainnya," kata Oscar.
Tim kesehatan juga terus melakukan perawatan untuk meningkatkan status gizi mereka. Menurut dokter spesialis, salah satu tim kesehatan yang bertugas di RSUD Asmat, dr. Dimas anak dengan gizi buruk tidak bisa langsung diberikan kalori dalam jumlah besar, tetapi dalam jumlah tertentu dimulai dari angka 25%-75% kebutuhan kalori harian.
Sementara, tubuh nantinya akan perlahan memperbaiki sistem metabolisme, pertambahan persentase asupan kalori ditingkatkan 10%-20% per hari atau selama 4 – 7 hari sampai mencapai target asupan kalori.
“Jadi fase awal itu fase yang sedang kritis-kritisnya. Bisa disertai hipoglikemi yang berarti gula darah rendah atau disertai hipotermi yang artinya kedinginan akibat tipisnya lapisan lemak Sehingga tidak bisa dikasih makanan secara langsung karena riskan,” terang dr. Dimas.
Dokter Dimas menyampaikan pemberian makanan secara bertahap ditujukan agar tubuh anak-anak yang mengalami gizi buruk dapat beradaptasi dalam menyerap dan mencerna zat-zat yang ada pada makanan.
Dia menjelaskan pemberian makanan berlebih yang tidak sesuai takaran di awal proses terapi perbaikan gizi justru dapat menyebabkan refeeding syndrome yang merupakan komplikasi metabolik yang dapat menyebabkan gagal jantung, gagal nafas akut, koma, dan disfungsi hati. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved