Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
NATAL, perayaan kelahiran Tuhan Yesus, niscaya mengungkapkan undangan serentak tuntutan. Yang pertama berkaitan dengan kerelaan Tuhan menarik manusia ke dalam lingkaran keselamatan. Yang kedua berhubungan dengan tanggung jawab sosial setiap orang yang mengalami nikmatnya undangan Tuhan.
Natal merangkum dua aspek itu. Dengan demikian, itu menjadi perayaan inklusif dan transformatif. Pada hari-hari ini, betapa penting menempatkan perayaan Natal dengan pesan kesetiakawanan Tuhan dalam konteks kehidupan kebangsaan. Bangsa (Indonesia) yang mendefiniskan ‘rancang bangun’ keberadaan di atas fondasi ‘kepelbagaian’ sosial.
Pada tahun ini, di tengah konteks sosial politik terkini, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) kembali menawarkan satu perayaan Natal transformatif. Pesan Natal 2017 diambil dari surat Rasul Paulus kepada umat di Kolose, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu (Kol 3:15a).”
Dalam terang ayat itu, PGI-KWI merenungkan Natal sebagai salah satu ‘jalan alternatif’ spiritual bagi bangsa kita yang meringkuk dalam jeruji sekian banyak persoalan pelik. Dengan beberapa nilai fundamental yang disentuh dalam pesan ini, perayaan Natal 2017 niscaya terasa ‘menohok’ kesadaran bersama ketika momentum rohani ini terhubungkan pada kondisi keindonesiaan kita.
Penuh sungut
Seperti apa kondisi kita saat ini? Kehidupan kita penuh sungut. Di antara sekian banyak gejala paling kuat pada ruang kehidupan sosial, ‘ketidakpuasan’ sedang terbahasakan dalam banyak cara. Banyak orang ‘meracau’ sambil memuntahkan kegundahan.
Mudah ditemukan bagaimana soal ini ada pada hampir semua ranah kehidupan. Bukan saja ada pada ruang kehidupan orang kebanyakan (massa) yang terlilit beban ekonomi. Hal yang sama juga ada pada kelas-kelas elite yang terjebak dalam rasa dahaga tiada akhir akan segala jenis ambisi dan nafsu. Tragisnya, gejala ini terus muncul, mengalir, dan hanya bermuara pada kebuntuan.
Di titik itu, semuanya menciptakan rasa frustrasi yang kian menggunung. Puncak dari arus mencemaskan itu tampak pada kebencian yang memercik antarkelompok dengan beragam latar belakang. Segalanya bisa meledak setiap waktu.
Dalam karya klasik, The Nature of Social Discontent: Alienation, Anomie, Ambivalence, Gary B Thom merefleksikan kebuntuan semacam ini sebagai alasan paling nyata bagi beragam penderitaan sosial (social sufferings). Meskipun selalu banar, segenap sumber dari penderitaan ini tidak melulu datang dari arena sosial.
Untuk konteks kita (Indonesia), ada godaan sosial yang sejak lama menjadi salah satu titik sentral perhatian, sekaligus ke mana energi diarahkan untuk membereskannya, dengan munculnya ‘faksionalisasi’ sempit, baik dengan warna politik, sosial, maupun agama. Di tengah hantaman penderitaan sosial, sebagian dari antara kita ternyata lebih mudah membangun kategori dan pengelompokan sempit. Yang tercipta hanya keterkurungan dan semakin banyaknya ’dinding’ yang melebarkan jarak sosial antarindividu dan kelompok sosial.
Rapuh
Arus sosial ini sedang membahasakan apa? Iain Wilkinson dan Arthur Kleinman dalam karya terbaru mereka—A Passion for Society (2016)—mengetengahkan kemampuan menghubungkan keberadaan dengan penderitaan manusia dan kehidupan sebagai prasyarat tumbuhnya kebersamaan sosial yang dewasa dan solid. Sebaliknya, ketiadaan kemampuan pada sisi ini akan menyeret kebersamaan sosial di ruang gelap permusuhan.
Di Indonesia, sangat jelas terlihat, setidaknya pada hitungan tiga (3) tahun terakhir, tidak terelakkan, bagaimana keindonesiaan sesungguhnya ialah ‘cermin jujur’ tentang kerapuhan sosial. Sendi-sendi kebersamaan sosial seperti begitu gampangnya tersapu sikap sempit.
Orang dengan mudah terkotak-kotak. Kebencian muncul seperti banjir besar yang dengan cepat melanda ruang-ruang sosial. Kita hampir tidak bisa menjelaskan bagaimana lontaran-lontaran kebencian itu datang dengan cepat untuk meremukkan dan menistakan kebersamaan sosial.
Pada jarak tertentu, memang kelihatan dengan jelas bagaimana segenap kompetisi politik yang seolah tidak ada berjeda menyumbang alasan terbesar bagi kerapuhan sosial. Pertarungan politik secara telanjang memang menguras energi sosial yang tidak sedikit. Ketika pertarungan politik di kancah nasional belum seluruhnya selesai pada tataran efek destruktifnya, perhelatan politik lokal secara beruntun kembali merobek kohesi sosial.
Imperatif
Bagaimana Natal 2017 bisa berdaya transformatif? ‘Damai’ dan ‘sejahtera’ yang disentuh secara khusus dalam pesan Natal 2017 PGI-KWI tidak pernah menjadi nilai-nilai yang secara otomatis menjadi pengalaman sosial. Jika dihubungkan dengan kesepakatan kebangsaan dan keindonesiaan kita, dua nilai di atas bisa dimengerti sebagai sebagai basis sekaligus energi utama yang mewadahi ‘rancang bangun’ keindonesiaan kita. Di sini, mau tidak mau, kita mesti memurnikan kembali kesadaran bersama tentang kesepakatan keindonesiaan ini.
Pada garis kesadaran seperti ini, pesan Natal 2017 PGI-KWI mengusung dua sisi maksud. Pertama, ajakan untuk kembali ke dalam diri. Sebuah iktikad menenggelamkan ingatan pada nilai-nilai utama yang menyokong kebersamaan sosial. Ini sama sekali tidak dimaksudkan dengan kecenderungan menebalkan ‘religiositas egosentrik’. Di sisi ini, memang selalu ada godaan untuk jatuh ke dalam ‘rasa nyaman’ spiritual untuk mengelak dari kepungan kepengapan sosial (politik).
Kedua, pengalaman spiritual Natal selalu mengandaikan daya perubahan (transformasi). Daya transformatif itu bisa muncul dalam banyak bentuk.
Pada titik kulminasi kejumudan sosial dan politik seperti sekarang, nilai-nilai kunci yang terbungkus dalam perayaan Natal tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai nilai-nilai yang dibangun secara sukarela dan bersifat sementara saja. Ada kandungan makna ‘kemendesakan’ dengan kadar ‘kewajiban moral’ yang tidak bisa ditunda dan ditawar lagi.
Stijn Oosterlynck, Nick Schuermans, dan Maarten Loopmans dalam buku Place, Diversity, and Solidarity (2017) mengetengahkan pentingnya transformasi kesadaran akan nilai-nilai fundamental kebersamaan sosial pada banyak level dan jangkauan. Ini bisa menyentuh aras institusional dan personal, juga komunitas dan individual.
Untuk saat ini, bentuk terbaik makna perayaan Natal 2017 semestinya berkaitan dengan transformasi kesadaran yang terarah pada penguatan ‘rancang bangun’ keindonesiaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved