Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Akses ODHA ke Terapi ARV belum Merata

28/11/2017 09:00
Akses ODHA ke Terapi ARV belum Merata
(ANTARA/Lucky R)

TERAPI obat antiretroviral (ARV) bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa didapatkan secara gratis di puskesmas.

Namun, belum semua wilayah di Indonesia mudah mengaksesnya, khususnya di wilayah terpencil. Hal itu bisa dilihat dari jumlah ODHA per triwulan 2017 sebanyak 622.602, tetapi baru 79.833 yang mendapatkan akses terapi ARV.

"HIV merupakan penyakit kronik, sama dengan diabetes dan hipertensi, tetapi kedua penyakit itu lebih mudah mendapatkan obat. ARV masih terbatas di remote area dan harus didapatkan di pusat karena diimpor serta mahal," jelas Direktur Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Wiendra Woworuntu dalam acara jelang Hari AIDS Sedunia 2017 yang diperingati setiap 1 Desember, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, hal itu sangat disayangkan sebab dengan adanya terapi ARV, HIV bukan lagi menjadi penyakit mematikan, melainkan kronik.

Di Indonesia, lanjut Wiendra, penyebaran virus HIV terkonsentrasi pada kalangan remaja dan usia produktif, yakni usia 20 hingga 39 tahun.

Karena itu, memberikan terapi ARV secara dini untuk menurunkan epidemi HIV menjadi penting.

"Dengan pengobatan secara dini dan rutin minum ARV, ODHA dapat hidup lebih produktif. Rata-rata 6-12 bulan setelah diketahui statusnya, ODHA harus segera mendapatkan terapi ARV. Tujuannya mencegah penularan dan jangan sampai timbul gejala dari HIV menjadi AIDS," tambahnya.

Lebih lanjut, Wiendra menjelaskan kampanye hari AIDS tahun ini ialah #UbahHidupLo untuk Indonesia Sehat. Kampanye tersebut diselenggarakan Kemenkes melalui kerja sama dengan DKT Indonesia.

Turut hadir pada acara itu Deputy General Manager Consumer Healthcare DKT Indonesia Pierre Frederick, dan pendiri lembaga swadaya masyarakat (LSM) Kuldesak.

Dengan mengampanyekan tema itu, kesadaran masyarakat agar berperilaku sehat diharapkan meningkat.

Ubah gaya hidup

Meningkatnya penyakit HIV berkaitan dengan pola perilaku di masyarakat. Sebab itu, dalam peringatan Hari HIV Sedunia, DKT mengajak masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan pencegahan HIV.

"Kami bersama-sama Kemenkes ingin mengajak masyarakat untuk menyukseskan program 3 Zero, yaitu Zero HIV infection, Zero stigma and discrimination, dan Zero AIDS related death atau AIDS yang menyebabkan kematian."

Hal itu, lanjutnya, bisa dimulai dari kesadaran diri sendiri dalam menerapkan perilaku TTM (tahan diri dengan tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, tetap setia pada pasangan, dan main aman agar selalu menggunakan kondom pada saat aktivitas seksual berisiko).

Seperti diketahui, faktor risiko HIV-AIDS di Indonesia bukan lagi disebabkan penggunaan jarum suntik saja, melainkan juga lewat hubungan seksual yang tidak terproteksi.

Sebanyak 72,4% kejadian HIV di Indonesia disebabkan hubungan seksual yang tidak terproteksi.

"Pada 3 Desember mendatang saat penyelenggaraan car free day, DKT Indonesia turun ke masyarakat dengan kampanye #UbahHidupLo. Kami sengaja mengemas kampanye pencegahan HIV-AIDS dengan cara menyenangkan, menginspirasi, dan menggunakan metode yang menarik bagi masyarakat," terang Pierre.

Di acara yang sama, Huges yang juga ODHA berpesan agar masyarakat menjauhkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA. (X-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya