Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kondisi Terumbu Karang Indonesia Cukup Baik

21/11/2017 10:41
Kondisi Terumbu Karang Indonesia Cukup Baik
(ANTARA/M AGUNG RAJASA)

KONDISI kesehatan terumbu karang Indonesia secara umum cukup baik dengan nilai indeks pada angka 5,6.

Kondisi tersebut diperoleh dari pengamatan di 336 stasiun pengamatan terumbu karang yang tersebar di hampir seluruh perairan Indonesia.

Bahkan, di lima stasiun pemantauan, kondisi terumbu karang berada dalam nilai indeks 10 atau sangat baik.

Sebaliknya, kondisi terumbu karang di 14 stasiun lain memiliki nilai 1 atau sangat jelek.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi (P20) memaparkan kondisi tersebut saat meluncurkan buku Indeks Kesehatan Terumbu Karang di Indonesia di Kantor P20 LIPI, Jakarta, kemarin.

Kepala P20 LIPI Dirhamsyah mengatakan daerah dengan kondisi terumbu karang paling baik antara lain berada di perairan Pulau Unggas di Tapanuli Tengah, perairan Desa Kulati di Pulau Tomia Wakatobi, bagian utara Pulau Banda Aceh, dan Pulau Neira Aceh.

Sementara itu, terumbu karang dengan nilai indeks sangat jelek di antaranya berada di bagian tenggara Pulau Galang Batam, perairan di dekat pusat Kota Biak, Pulau Mapur di Batam bagian barat, Pulau Koka Kecil di Lingga, Pulau Bungin di Natuna, Pantai Teluk Bengkoang di Nias Utara, Pulau Kulambing di Pangkep, perairan Pulau Jeffman di Raja Ampat, dan di perairan Gili Lontar di Lombok.

"Ini bisa menjadi gambaran bagi kita bagaimana kondisi terumbu karang kita saat ini. Indeks Kesehatan Terumbu Karang itu disusun LIPI berdasarkan data dan akumulasi yang telah dimiliki selama bertahun-tahun dalam bidang riset dan monitoring terumbu karang di hampir semua perairan di Indonesia," katanya.

Ia mengatakan, sebagai negara yang memiliki keanekaragaman biota laut, ditambah luas terumbu karang yang mencapai 18% dari total luas terumbu karang dunia, Indonesia perlu memperhatikan dengan baik kondisi kesehatan terumbu karang.

"Semakin baik kondisi terumbu karang, dari sisi ekonomis tentu juga makin tinggi nilainya," ujar Dirmahsyah.

Dari penelitian yang dilakukan dengan bantuan Bank Dunia itu, diperoleh gambaran mengenai beberapa penyebab terumbu karang di Indonesia mengalami kerusakan, di antaranya, akibat sedimentasi, pencemaran perairan, penambangan karang, dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas Kepala LIPI Bambang Subiyanto mengungkapkan penerbitan buku Indeks Kesehatan Terumbu Karang merupakan bagian dari peningkatan kinerja sumber daya manusia (SDM) di lingkungan LIPI. (Ths/H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya