Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
HUJAN dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi hingga satu minggu ke depan di hampir seluruh wilayah Indonesia, dari Aceh, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Dalam hal ini termasuk wilayah Jabodetabek.
Menurut Deputi Bidang Meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mulyono R Prabowo, diperkirakan di beberapa tempat hujan yang menguyur disertai kilat atau petir dan angin kencang.
Secara spesifik daerah yang berpotensi mengalami kondisi itu ialah Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Bangka Belitung, pesisir selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah bagian selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.
"Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut diimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, genangan, pohon tumbang, dan jalan licin," ujar Mulyono dalam keterangan resminya, kemarin.
Mulyono mengatakan, bagi masyarakat yang membutuhkan informasi, BMKG membuka layanan informasi untuk memberikan bantuan.
Masyarakat dapat menghubungi layanan telepon BMKG yang tersedia selama 24 jam.
Terkait dengan itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan ancaman bencana akan meningkat seiring dengan meningkatnya curah hujan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Januari mendatang.
Ini di luar bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, dan erupsi gunung api yang dapat terjadi kapan saja.
Menurut data BNPB, jumlah bencana sejak Januari hingga 20 November 2017 tercatat 2.057 kali dengan korban meninggal 282 jiwa dan 864 orang luka-luka dan 3.209.513 orang mengungsi.
Menurut Sutopo, dampak ekonomi cukup besar karena telah menyebabkan penderitaan masyarakat.
"Misal dampak kerugian ekonomi peningkatan status awas Gunung Agung di Bali yang mencapai lebih dari Rp2 triliun. Jumlah total kerugian dan kerusakan ekonomi akibat bencana belum dihitung," katanya.
Waspada bencana
Menurut BNPB pula, dalam seminggu belakangan berbagai bencana karena cuaca ekstrem terjadi di beberapa wilayah, dari Malang, Kabupaten Bandung, hingga Lombok dan wilayah lain di NTB.
"Dalam menghadapi kondisi itu, badan penanggulangan bencana daerah telah bersiaga dalam menghadapi bencana yang mungkin datang. Pemerintah daerah juga diimbau agar lebih waspada," ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, kemarin.
Sutopo mengatakan dampak perubahan iklim global makin meningkatkan kejadian hujan ekstrem. Selain itu, kerusakan lingkungan, degradasi lahan, daerah aliran sungai kritis, dan banyaknya penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana makin meningkatkan risiko bencana.
"Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir di dataran banjir dan bantaran sungai seperti di sepanjang pantai timur Sumatra, pantai utara Jawa, Kalimantan, dan lainnya harus waspada terhadap ancaman banjir. Begitu pula masyarakat yang bermukim di daerah rawan tanah longsor di perbukitan, pegunungan, atau tebing dan lereng hendaknya waspada dari ancaman tanah longsor," ujar Sutopo. (Ant/X-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved