Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP tahunnya, bank sampah di Indonesia terus bertumbuh. Jika pada 2015 terdapat 3.800 bank sampah, pada akhir tahun lalu jumlahnya telah mencapai 4.280 unit. Jumlah itu diprediksi akan meningkat seiring dengan pemahaman masyarakat tentang potensi ekonomi dari sampah.
Dewasa ini, setidaknya, terdapat rata-rata 5.000 ton sampah terkelola melalui bank sampah saban bulan. Total nilai transaksi rata-rata sekitar Rp34,3 miliar.
Dalam satu kesempatan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar mengatakan kementeriannya setahun belakangan telah bermitra dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) dalam pengembangan bank sampah. Lewat perjanjian kerja sama (PKS), kedua kementerian itu antara lain memberikan sosialisasi peningkatan kapasitas bank sampah menjadi koperasi dan UKM, juga pelaksanaan pendampingan.
Dengan menjadi badan usaha berunit hukum, bank sampah dapat berkembang lebih pesat. Menurut Siti, peluang bisnis bank sampah sangat besar, misalnya untuk ekspor biji plastik.
Direktur Pengelolaan Sampah R Sudirman memaparkan ke depan tanggung jawab produsen yang diperluas, yang juga dikenal dengan extended producer responsibility (EPR), akan diintegrasikan dengan bank sampah. Mekanisme tersebut dibangun dengan menempatkan bank sampah sebagai collection/dropping point sampah dari kemasan dan pengelolaannya dapat dimitrakan dengan para produsen. “Ini untuk mempermudah para produsen melaksanakan kewajiban dalam pengelolaan sampah,” ujar Sudirman.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengatakan PKS bersama KLH bertujuan agar sampah dapat diberi nilai tambah. Pengelola bank sampah diberi pelatihan untuk dapat memanfaatkan sumber daya yang ada dan dikembangkan menjadi produk-produk berdaya jual seperti pupuk.
Dengan struktur kelembagaan yang baik, bank-bank sampah di bawah naungan koperasi kelak bisa memperoleh akses pembiayaan, baik dari dana simpan pinjam maupun lembaga pembiayaan dana bergulir, untuk meningkatkan skala produksi mereka.
Para pengumpul sampah pun diharapkan dapat bergabung menjadi anggota koperasi. Agus menambahkan koperasi, selain bisa menjadi penyandang dana, bisa berperan sebagai pusat pemasaran produk-produk yang dihasilkan dari bank sampah.
Deputi Bidang Pembiayaan Kemenkop UKM Yuana Sutyowati mengungkapkan, untuk DKI Jakarta, ada lebih dari 400 bank sampah, tapi baru 3 koperasi yang mengawal. Masih minimnya kesadaran para pengelola bank sampah ditengarai menjadi kendala yang menghambat program itu. Mayoritas pengelola bank sampah belum menyadari nilai tambah yang didapat dengan pengelolaan lebih baik.
“Kebanyakan bank sampah sekarang itu sifatnya paguyuban dan dananya urunan dari pengelola. Padahal, kalau gabung ke koperasi, mereka bisa dapat akses pembiayaan lebih besar. Mereka bisa beli mesin pencacah plastik sehingga sampah yang dijual tidak begitu-begitu saja.” (Pro/Pra/S-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved