Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Bersih Sejahtera berkat Kelola Limbah

Bagus Suryo
17/11/2017 11:00
Bersih Sejahtera berkat Kelola Limbah
(MI/BAGUS SURYO)

Hari masih pagi. Wahyudi, Kusnan, dan Herman bergegas ke Kantor Bank Sampah Malang (BSM), Kota Malang, Jawa Timur. Dengan berbekal selembar kertas daftar nama nasabah lengkap dengan alamat dan nomor telepon seluler, para petugas pengambil limbah rumah tangga tersebut mendatangi rumah per rumah.

Aktivitas jemput bola itu dilakoni saban hari sesuai dengan jadwal atau permintaan nasabah. Aktivitas mereka persis petugas kebersihan. Yang membedakan ialah sampah yang diambil dari nasabah langsung ditimbang di tempat. Transaksi awal pun terjadi dengan tanda terima nota penimbangan sementara.

Dengan begitu, transaksi jual beli sampah dilakukan dengan transparan. Soal harga bukan persoalan. Nasabah memiliki daftar harga pembelian sampah di BSM. Harga bisa lebih mahal alias memberikan keuntungan bagi nasabah Rp200 per kg per jenis sampah.

Setelah sampah dibawa ke Kantor BSM, petugas administrasi dan keuangan menghitung nilai sampah milik nasabah. Mereka lantas mengirim nilai limbah itu ke rekening tiap nasabah.

Para nasabah dapat melihat hasil penjualan sampah itu melalui aplikasi BSM Mobile. Walhasil, keberadaan bank sampah membuat lingkungan menjadi sehat sekaligus masyarakat berpeluang menjadi lebih sejahtera.

Menurut Sekretaris Koperasi BSM Teguh Sambodo kepada Media Indonesia, kemarin, BSM hanya menerima sampah kering. “Bisnis sampah itu menunjukkan tren membaik sejak bermodal awal dana bantuan hibah dari Pemkot Malang sebesar Rp250 juta dan PT PLN (persero) Distribusi Jawa Timur Rp80 juta,” ujar Teguh, kemarin.

BSM kini mempekerjakan sebanyak 20 orang dengan gaji Rp1,5 juta per orang per bulan ditambah makan siang di kantor itu. Dengan begitu, keberadaan bank sampah mampu pula menciptakan lapangan pekerjaan.

Deputi Manajer Komunikasi PLN Distribusi Jawa Timur Pinto Rahardjo menjelaskan awalnya BSM menerima program bantuan hibah dari PLN pada 2011. “Bank sampah sejak lahir melalui proses pendampingan lima tahun sampai enam tahun, sekarang didorong untuk mandiri,” tegas Pinto, kemarin.

Uluran tangan PLN tidak berhenti di situ. Saat pengurus BSM membutuhkan peralatan dalam mengembangkan usaha, PLN membuka pintu terhadap pengajuan permohonan tersebut. PLN menerapkan kemitraan dengan skema kredit lunak dengan bunga 3% per tahun.

Tidak bergantung pada suami
Kisah nyata yang sukses juga terjadi pada Bank Sampah Salima (BSS) yang dikelola warga di Kelurahan Karwisi, Kecamatan Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Itu salah satu bank sampah yang pengelolaannya dibantu PLN Wilayah IX Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar).

BSS pada awalnya hanya melayani 112 nasabah karena hanya untuk wilayah Karwisi. Seiring dengan perjalanan, menurut Ketua BSS Maryam Taqaful, sekarang anggota berkurang karena terdapat pembentukan bank sampah lain di sejumlah RT.

“Dari hanya satu bank sampah, sekarang sudah ada empat bank sampah. Anggota masing-masing 80 orang. Omzet berkisar Rp2 juta-Rp4 juta per bulan per bank sampah,” tukas Maryam.

Seorang ibu rumah tangga, Nuraeni, 45, sebagai nasabah bank sampah tersebut mengaku senang. “Kami bisa terbantu untuk menambah penghasilan suami yang hanya bekerja sebagai penarik becak dan motor (bentor),” akunya.

Sejak menjadi nasabah bank sampah, tiap bulan ia mampu membayar listrik, membeli beras, dan keperluan mendadak untuk rumah tangganya tanpa berharap lagi dari penghasilan suami yang tidak jelas tiap hari.

PLN sejatinya juga membantu bank sampah di daerah lain. Sebut saja Bank Sampah NTB Mandiri yang terletak di Kampung Banjar Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Aisyah Odist, pengelola Bank Sampah NTB Mandiri, memaparkan PLN Wilayah NTB mengucurkan dana binaan sejak 2014. (LN/YR/S-4)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya