Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Momentum yang Mempersatukan

Ghani Nurcahyadi
10/11/2017 11:30
Momentum yang Mempersatukan
(ANTARA/ANDREAS FITRI ATMOKO)

MOMENTUM peringatan Hari Pahlawan yang jatuh setiap 10 November dapat menjadi refleksi bagi masyarakat Indonesia untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa.

Hal itu setidaknya ditegaskan pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman, Bambang Widodo.

"Pahlawan-pahlawan kita berbeda suku, agama, dan budaya, namun mereka tidak mempermasalahkan kelokalan, golongan, dan lain sebagainya, karena yang mereka miliki ialah semangat berjuang demi kemerdekaan Indonesia," katanya seperti dilansir Antara, baru-baru ini.

Nilai-nilai yang dianut pejuang kemerdekaan itu, lanjut Bambang, perlu dimaknai seluruh elemen bangsa agar persatuan dan kesatuan yang sudah terjalin sejak Indonesia Merdeka tidak runtuh.

Nilai-nilai kepahlawanan pun perlu diresapi seluruh elemen bangsa agar menjadi motivasi dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.

"Hari Pahlawan juga dapat menjadi media untuk memperkuat rasa cinta pada bangsa, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan mencintai pahlawannya," ujarnya.

Terpisah, pengajar Kajian Strategis dan Global Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Muhammad Syauqillah, mengatakan, anak muda saat ini menjadi tulang punggung dalam mengisi kemerdekaan.

Apalagi saat ini, ancaman terhadap persatuan dan kesatuan Indonesia lebh bersifat ideologis ketimbang ancaman yang bersifat fisik, macam radikalisme, intoleransi, dan terorisme.

"Itu merupakan tantangan nyata di depan anak muda zaman sekarang. Karena itu, mereka harus bisa melakukan kontranarasi terhadap konten-konten negatif di dunia maya, baik itu intoleransi, radikalisme, terorisme, dan hoaks," tuturnya.

Faktanya, imbuh Syauqillah, negara ini sedang banyak menghadapi ancaman baik itu dari sisi ekonomi, politik, budaya, dan intoleransi. "
"Itulah yang harus dilawan anak muda zaman now," katanya.

Sesuai tren

Doktor lulusan Universitas Marmata, Turki, itu menyoroti, anak muda saat ini lebih banyak yang acuh tak acuh terhadap kondisi bangsa.

Untuk itu, ia mengingatkan modernisasi yang saat ini terjadi di semua bidang jangan sampai membuat anak muda larut dan kehilangan jejaknya pada kearifan lokal.

Nilai-nilai kebangsaan yang mulai terkikis, saat ini harus bisa dikembalikan dengan pemahaman kembali Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.

"Tentunya pemahamannya harus disesuaikan dengan tren dan cara anak muda zaman sekarang.

Pancasila tidak lagi bisa kita sekat menjadi ideologi satu kelompok saja karena Pancasila milik semua generasi muda," tuturnya.

Dalam kesempatan terpisah, Wali Kota Semarang, Jawa Tengah, Hendrar Prihadi mendorong generasi muda untuk aktif menginvestasikan nama dalam berbagai organisasi, baik di lingkup sekolah maupun luar sekolah.

"Generasi muda saat ini sudah bisa menjadi pemimpin, baik di bangku sekolah maupun kegiatan kepemimpinan di luar sekolah," katanya saat Sarasehan Kepahlawanan Antargenerasi di Semarang, Senin (9/11).

Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi mengatakan investasi nama bisa dilakukan dengan aktif mengikuti berbagai kegiatan dan organisasi yang positif untuk melatih kepemimpinan dan berorganisasi.

Kiprah dan perannya dalam keaktifan di berbagai organisasi, lanjut dia, bisa menjadi investasi dan modal untuk menjadi pemimpin di masa depan sehingga itulah yang disebut dengan investasi nama.

"Investasi nama bukan sesuatu yang sulit. Yang penting, berbuat baik dan orang lain akan merasakan kebaikan kita. Suatu saat, kalau ada peluang menjadi pemimpin pasti adik-adik akan direkomendasikan," kata dia. (S-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya