Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada empat anak bangsa yang dinilai berkontribusi besar untuk Indonesia.
Mereka ialah TGKH M Zainuddin Abdul Madjid (tokoh asal Nusa Tenggara Barat), Laksamana Malahayati/Keumalahayati (asal Aceh), Sultan Mahmud Riayat Syah (asal Kepulauan Riau), dan Lafran Pane (asal Daerah Istimewa Yogyakarta).
Pemberian gelar pahlawan diputuskan melalui Keppres RI No 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan. Keputusan tersebut diambil setelah Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan bersidang pada Oktober lalu.
Dengan bertambahnya 4 pahlawan baru, total jumlah pahlawan nasional menjadi 173 orang, terdiri atas 160 laki-laki dan 13 perempuan.
Pahlawan nasional ialah gelar yang diberikan pemerintah kepada warga negara Indonesia yang semasa hidup melakukan tindak kepahlawanan dan berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.
"Mereka yang menyandang gelar pahlawan nasional tidak hanya yang berjasa di medan perang, tapi juga di bidang lain yang gaung dan manfaatnya dirasakan secara nasional," kata Khofifah seusai upacara penganugerahan gelar pahlawan di Istana Negara, di Jakarta, kemarin.
Ia menjelaskan usul pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada presiden dilakukan melalui Dewan Gelar.
"Sebelumnya diadakan verifikasi, penelitian, dan pengkajian melalui proses seminar, diskusi, serta sarasehan."
Laksamana Malahayati atau Keumalahayati merupakan panglima perang Kesultanan Aceh yang mampu menaklukkan armada angkatan laut Belanda dan Portugis pada abad ke-16.
Ia diusulkan Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
Sementara itu, Lafran Pane, selain pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ia pernah menjadi tokoh muda perintis kemerdekaan.
Sementara itu, Zainuddin Abdul Madjid merupakan pendiri ormas Islam terbesar di NTB, Nahdlatul Wathan. Gelar Tuan Guru yang diberikan kepada Zainuddin merupakan gelar bagi para pemimpin agama di provinsi NTB.
Selanjutnya, Sultan Mahmud Riayat Syah ialah sosok yang konsisten melawan penjajahan Belanda di Tanjung Pinang.
Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial, Hartono Laras, menjelaskan ada syarat umum dan syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum tokoh diputuskan memperoleh gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden.
Dikatakan, empat tokoh yang memperoleh gelar pahlawan yang ditetapkan tahun ini telah memenuhi seluruh persyaratan.
Keterwakilan daerah
Menanggapi penambahan gelar pahlawan nasional, peneliti sejarah dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Awvi Warman Adam mengungkapkan harapannya agar lebih banyak tokoh pahlawan perempuan yang dianugerahi sebagai pahlawan nasional.
Menurutnya, diangkatnya Laksamana Malahayati dari Aceh dapat menambah pahlawan nasional perempuan saat ini yang jumlahnya baru 13 orang dari 160 pahlawan nasional.
"Saya melihat ini dari aspek perempuannya. Saya berharap lebih banyak lagi pahlawan nasional dari kalangan perempuan karena jumlahnya masih sedikit," tuturnya ketika dihubungi, kemarin.
Sementara itu, penganugerahan bagi dua tokoh lain, yaitu TKGH M Zainuddin Abdul Madjid dan Sultan Mahmud Riayat Syah, menurut Asvi, tiap-tiap tokoh tersebut merepresentasikan keterwakilan daerah.
Selama ini belum ada tokoh nasional yang berasal dari provinsi NTB dan Kepulauan Riau.
"Menurut saya, wajar karena memang belum ada keterwakilannya dari provinsi-provinsi itu," imbuh dia.
Namun, Asvi menyayangkan bahwa Lafran Pane dianugerahi gelar Pahlawan Nasional lebih dulu.
Sementara itu, ada tokoh lain, yakni Sugondo Djojopuspito, yang namanya pernah diajukan pada 1978 belum mendapat gelar tersebut.
Sugondo merupakan Ketua Kongres Pemuda II pada 1928.
Sementara itu, tokoh-tokoh Sumpah Pemuda sudah menjadi pahlawan nasional lebih dulu, seperti M Yamin dan WR Soepratman, dan Leimena meskipun, menurutnya, Lafran Pane ialah pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
HMI juga merupakan organisasi besar dan berpengaruh di Tanah Air.
"Saya tidak menolak, tapi hendaknya didahulukan nama-nama yang sudah lebih dulu diajukan," pungkasnya. (pro/ind/S-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved