Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Budayakan Hemat Makanan

Christian Dior Simbolon
31/10/2017 07:47
Budayakan Hemat Makanan
(AP/DITA ALANGKARA)

INDONESIA harus meningkatkan produktivitas pangan demi mencapai swasembada pangan. Menurut Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, minimal dibutuhkan peningkatan produktivitas di atas 3% agar stabilitas pangan terjaga.

“Setiap tahun konversi la­han pertanian ke lahan industri dan perumahan kurang lebih 1,%, penduduk bertambah juga 1,5% per tahun. Jadi, setidak-tidaknya, untuk keberlanjutan di Indonesia, harus ada peningkatan produktivitas di atas 3%,” ujar Kalla saat memberikan pidato kunci dalam Eat Asia-Pacific Food Forum di Jakarta, kemarin.

Di sisi lain, Kalla mengingatkan masyarakat untuk mengubah pola makan dengan tidak membuang-buang makanan. Sebabnya, masyarakat Indonesia umumnya hanya menyantap 70% dari makanan yang disajikan. Sisanya dibuang begitu saja.

“Orang menyediakan makan berlebihan. Kadang-kadang yang dimakan hanya 70%. Di Timur Tengah saja mungkin hanya 50% yang disajikan (yang dimakan). Sekitar 50% atau 20% dari situ dibuang. Itu harus berubah,” ujar Kalla.

Jika perlu, lanjut Kalla, ukuran piring makan diperkecil demi membudayakan penghematan makanan.

“Di Afrika, mengubah cara dilakukan dengan mengecilkan piring. Itulah contoh yang harus kita ikuti sehingga orang tidak terpengaruh dengan piring besar dan memakan dengan piring besar namun malah tidak menghabiskannya,” paparnya.

Kalla menegaskan, persoalan kelangkaan pangan harus menjadi perhatian serius pemerintah. Sebabnya, isu kekurangan pangan mudah ‘digoreng’ menjadi persoalan politik.

“Tiap permasalahan pangan bisa menggoncangkan politik. Seperti halnya permasalahan (kekurangan) cabai di India. Itu bisa menggoncangkan pemerintahan,” imbuhnya.

Karena itu, menurut Kalla, mengimpor bahan makanan demi memenuhi kebutuhan nasional tidak perlu dipersoalkan. “Indonesia kadang impor beras. Terigu dan gandum juga kadang impor. Bahkan, cabai dan bawang juga impor. Tapi soal impor ya sah-sah saja,” ujar dia.

Lebih jauh, Kalla menuturkan, selain terjadi karena konversi lahan dan pertumbuhan jumlah penduduk, kelangkaan pangan juga kerap disebabkan perubahan iklim. Karena itu, Kalla mengatakan pemanfaatan teknologi penting dalam upaya menggenjot produktivitas dan kualitas pangan.

Kelaparan kronis
Saat membuka East Asia Pasific Food Forum, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengatakan, dunia saat ini menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan pangan global.

Jika dilihat dari data Food and Agriculture Organization (FAO), Puan mengungkapkan, 723 juta orang di dunia saat ini menderita kelaparan kronis. “Dan 490 juta jiwa di antaranya hidup di kawasan Asia Pasifik,” ujar dia.

Selain kelaparan, lanjut Puan, pola makan yang tidak sehat menjadi persoalan tersendiri. “Makanan dan pola makan yang tidak sehat menjadi faktor risiko penyebab munculnya berbagai penyakit.” katanya. (Ind/H-3)

[email protected]



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya