Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH menargetkan belanja penelitian dan pengembangan nasional mencapai 4,2% dari total produk domestik bruto (PDB) pada 2045. Saat ini belanja riset nasional masih di bawah 1%.
“Ada kenaikan walau tertatih-tatih. Targetnya 2045 paling tidak kita bisa setara Korea Selatan yang saat ini anggaran risetnya 4,23%,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek-Dikti) M Nasir saat peluncuran indikator pengeluaran kotor riset dan pengembangan (gross expenditure research and development/GERD) pada acara Indonesia Science Expo (ISE) 2017 di Jakarta, kemarin.
Ia mengungkapkan porsi belanja riset pada 2015 sebesar 0,08% dari PDB. Saat ini porsinya meningkat menjadi 0,25%. “Totalnya Rp30 triliun. Dari pemerintah (APBN) Rp25 triliun, sisanya swasta,” tambahnya.
Untuk menarik minat swasta dalam membiayai riset, ujarnya, lembaga penelitian dan pengembangan di kementerian, lembaga, ataupun perguruan tinggi perlu membuat strategi proyek penelitian berbasis permintaan (based on demand) pihak industri. Hal itu diharapkan bisa mendorong swasta untuk mau berkontribusi lebih besar.
Selain itu, Menristek-Dikti juga menyarankan kepada lembaga penelitian untuk mengefisienkan anggaran sehingga pengeluaran hanya berbasis aktivitas. “Pengeluaran yang tidak memiliki nilai tambah harus dikurangi dan digeser kepada kegiatan riset,” ujarnya.
Nasir meyakini peluang inovasi hasil penelitian untuk diserap pihak industri amat besar karena adanya perkembangan positif. Ia menyebutkan, pada 2015 tercatat hanya 52 karya inovasi yang bisa dimanfaatkan swasta. Namun, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 661. “Kolaborasi antara inovator dan investor penting agar hasil riset bisa dimanfaatkan industri,” tambahnya.
Belum optimal
Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek-Dikti Muhammad Dimyati menambahkan, pada 2040 porsi dana riset dari swasta ditargetkan bisa mendominasi. Saat ini posri pendanaan dari swasta masih minim, yakni 17%. Pemerintah berkontribusi sebesar 83%.
Di negara-negara maju, lanjutnya, porsi pendaaan riset dari swasta (perguruan tinggi, perusahaan, lembaga nirlaba) lebih besar. “Kita mendorong anggaran dari swasta. Seperti yang dikatakan Pak Menteri, semoga bisa meniru Jepang yang porsi dana swastanya 92%,” tambahnya.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subiyanto mengatakan kolaborasi antara lembaga riset dan industri perlu ditingkatkan. Ia mengakui belum optimalnya penyerapan hasil riset oleh swasta karena adanya gap di antara kedua pihak. Demikian halnya dengan hasil riset LIPI yang minim digunakan swasta.
Ketua Panitia ISE 2017 Laksana Tri Handoko mengatakan pameran iptek yang bakal berlangsung hingga Kamis (26/10) itu tak hanya diperuntukkan bagi komunitas peneliti dan inovator, tapi juga masyarakat umum, mahasiswa, dan pelajar. Sekitar 176 peserta mengikuti ISE 2017. Tema riset dan inovasi yang dihadirkan sebagian besar tentang teknologi, engineering, dan pangan.
Pameran juga diikuti sejumlah sekolah menengah dari berbagai daerah yang memamerkan karya inovasi mereka. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved