Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kekeringan masih Mengancam

Putri Rosmalia Octaviyani
04/9/2017 16:36
Kekeringan masih Mengancam
(ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi kekeringan akan melanda sejumlah daerah di Indonesia. Setidaknya hingga akhir September kekeringan yang lebih parah dari 2016 masih akan berlangsung.

Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan mengatakan, kekeringan lebih parah karena pada 2016 hujan masih kerap terjadi di musim kemarau. La Nina membuat kemarau tahun lalu menjadi lebih basah.

"Puncak musim kemarau 2017 diprakirakan dominan terjadi antara Juli sampai September 2017," ujar Sutopo.

Setidaknya 31 kabupaten dan kota di 6 provinsi akan mengalami kekeringan hingga awal September mendatang. Keenam provinsi tersebut ialah Yogyakarta, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, dan NTT.

"Di sana ada 117 kecamatan dan 394 desa/kelurahan yang sudah mengalami kekeringan akibat musim kemarau 2017," ujar Sutopo.

Dia menyatakan kekeringan yang terjadi saat ini di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara Timur karena daerah itu defisit air. Artinya, ketersediaan air yang ada tidak mencukupi kebutuhan sehingga setiap musim kemarau mengalami kekeringan.

Meski begitu, saat ini musim kemarau masih berlangsung normal. Bantuan di beberapa daerah telah dikirimkan berupa pengiriman air bersih, hingga pembuatan pompa dan sumur.

Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga masih terjadi di beberapa daerah. Pemadaman terus dilakukan oleh Manggala Agni dan tim terpadu di setiap daerah. Beberapa daerah yang terdata memiliki titik panas ialah Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Papua, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Total titik panas berdasarkan satelit NOAA19 per 1 Januari sampai 1 September 2017 dilaporkan sebanyak 1.659 titik. Jumlah itu turun sebanyak 685 titik atau 29,22% jika dibandingkan periode yang sama 2016 sebanyak 2.344 hotspot.

Adapun data TERRA/AQUA (NASA) per 1 Januari sampai 1 September 2017, menunjukkan penurunan sebanyak 2.125 hotspot atau 69,53%, jika dibandingkan tahun sebelumnya periode yang sama, yaitu dari 3.056 hotspot menjadi 931 hotspot. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya