Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
METODE stem cell atau sel punca saat ini semakin jadi pilihan pengobatan masyarakat. Namun, pemahaman akan metode tersebut cenderung masih minim sehingga banyak informasi yang kurang tepat atau rancu sampai pada masyarakat.
"Hal pertama yang harus dipahami masyarakat ialah metode stem cell berperan sebagai kompelemen, atau pelengkap metode pengobatan medis lain," ujar dokter spesialis kardiovaskular dan neurologi, The National Health University, California, AS, Taruna Ikrar, dalam jumpa pers di Vinski Tower, Cilandak, Jakarta, kemarin.
Sel punca adalah jenis sel di dalam tubuh yang sangat aktif membelah dan belum memiliki fungsi khusus. Sel punca berperan sangat penting karena dapat berkembang menjadi berbagai jenis sel khusus, seperti sel darah atau sel otot
Taruna mengatakan, selama ini banyak masyarakat salah kaprah dan keliru dalam memahami metode sel punca. Umumnya, mereka tidak benar-benar memahami makna metode tersebut, serta sumber-sumber cell punca tersebut.
Hal itu diperparah dengan banyaknya promosi dan penjualan produk dan jasa yang memanfaatkan kepopuleran metode sel punca untuk mengambil keuntungan pribadi.
"Banyak salah kaprah soal sel punca. Ada yang menyebut bisa transplantasi dari binatang dan tumbuhan, itu pembodohan. Karena itu tidak bisa dan tidak mungkin, harus dari manusia ke manusia," ujar Taruna yang dikenal dunia sebagai penemu .
Sel punca dapat dikembangkan dari sel embrionik yang diambil dari embrio bayi atau dari sel dewasa, seperti sumsum tulang, darah tepi, dan tali pusat bayi baru lahir. Perlakuan dengan sel punca dibagi menjadi dua, yaitu terapi dan transplantasi. Pada proses terapi, sel punca hanya disuntikkan ke jaringan atau organ target dengan tujuan memperbaiki bagian yang rusak.
Dikatakan Taruna, transplantasi sel punca merupakan salah satu teknologi yang dapat menjadi solusi minimnya dampak positif pengobatan konvensional. Hal itu umumnya dialami penyakit berat degeneratif. Seperti kardiovaskular, diabetes, autisme, hingga parkinson.
"Misalnya parkinson, selama ini obat-obatan kimiawi hanya mengurangi gejala, inti penyembuhannya tidak terjadi. Stem cell umumnya jadi pilihan untuk pengobatan yang efektifitasnya dari obat kimia tidak banyak, jadi diobati ke inti penyakitnya lewat sel punca," ujar Taruna yang sempat dinobatkan sebagai nominator Penghargaan Nobel 2016 itu.
Dikatakan Taruna, untuk mendapat hasil yang baik dari transplantasi sel punca, harus dilakukan beberapa tahap. Di antaranya pra transplantasi, untuk mengetahui kondisi kebutuhan pasien dan menjalani terapi kesehatan. Kedua, proses transplantasi. Terakhir, post transplantasi, yakni pemantauan berjangkan hingga waktu yang ditentukan dokter pada masing-masing pasien.
"Umumnya pasien akan mulai mendapat dampak baik sejak 3 bulan pasca transplantasi dan mencapai puncak pada rentang waktu 1 tahun," ujar Taruna.
Presentase kesembuhan transplantasi sel punca pada pasien berbeda-beda. Tergantung dari tingkat keparahan dan keberhasilan proses. "Umumnya, tingkat kesembuhan lebih dari 60%," ujarnya.(OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved