Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
KURANGNYA ruang diskusi dan bertukar pikiran disebut sebagai salah satu pemicu munculnya intoleransi di kalangan remaja. Media sosial, dianggap tidak cukup mampu menjadi penghubung dialog yang sehat dan terbuka.
"Masalah intoleransi memang kita rasakan di lingkungan, bahkan di sekolah obrolan soal intoleransi juga kerap terjadi," ujar Katya Narendratanaya, 16, siswa SMA AL-Izhar, Jakarta, dalam acara Rangkul: Kolaborasi Lintas Kultur, di @america, Jakarta, Jumat (18/8).
Katya mengatakan, lingkungan yang terbatas dan cenderung dari latar belakang tidak beragam membuat pengetahuan mereka tentang multikulturalisme kerap terbatas. Untuk menghindari itu, ia berharap akan semakin banyaknya ruang atau kegiatan yang dapat mempertemukan remaja lintasagama dan berbagai latar belakang.
"Kita merasakan kalau kita perlu kenal dan bergaul dengan teman dari berbagai latar belakang. Karena meski ada sosial media, tetap beda dibanding kita bisa bertemu dan belajar atau membuat sesuatu bersama," ujar Katya.
Dikatakan Katya, di lingkungan sekolah, anjuran untuk menjaga toleransi memang sudah kerap didengungkan. Namun, di kalangam siswa sendiri, pandangan masing-masing masih sangat bermacam. Informasi yang kurang atau hanya berlandaskan yang ada di sosial media menjadi hal yang dapat berdampak negatif tanpa adanya arahan dan pengalaman bersosialisasi di lingkungan yang multikultur.
Program Director Rangkul, Jessica Peng, di kesempatan yang sama mengatakan, perhatian atas masalah intoleransi memang harus diberikan dengn lebih serius pada remaja. Pengalaman yang minim dan membutuhkan arahan membuat mereka rentan untuk memiliki pemikiran yang intoleran.
"Harus ada program untuk mempertemukan remaja dari berbagai latar belakang. Mereka perlu diajak bertemu dan saling meningkatkan hubungan baik melalui pertemanan dan kegiatan positif lainnya," ujar Jessica.
Dikatakan Jessica, dukungan dari berbagai pihak dibutuhkan untuk mencapai hal tersebut. Termasuk dari sekolah dan penyediaan fasilitator untuk mereka dapat berkarya. "Mereka perlu bimbingan karena perannya sangat besar di masa depan," ujar Jessica.
Rangkul merupakan program kolaborasi 29 remaja asal dua sekolah yang berlatar belakang agama berbeda, yakni Al Izhar dan Kanisius Jakarta. Seluruh siswa menjalani proses pelatihan dan pendampingan untuk dapat secara berkelompok bekerja sama menghasilkan beberapa karya bertema toleransi, seperti film pendek, foto, dan iklan layanan masyarakat. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved