Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Praktis Indonesia Sudah Operasikan Reaktor Nuklir dan Aman

Agus Utantoro
05/8/2017 10:58
Praktis Indonesia Sudah Operasikan Reaktor Nuklir dan Aman
(ANTARA)

MASYARAKAT Indonesia diimbau untuk tidak khawatir dengan rencana pengoperasian PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di dalam negeri. PLTN, dipastikan aman dan akan menjadi alternatif yang mampu memenuhi kebutuhan energi secara nasional.

Kepala Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) Prof Dr Djarot S Wisnubroto di Yogyakarta menjelaskan Indonesia sebenarnya sudah sejak lama mengoperasikan reaktor nuklir. "Tidak hanya satu tetapi tiga," katanya di sela-sela FGD tentang nuklir di Gedung Baiquni, Batan Babarsari Yogyakarta, Jumat (4/8).

Menurut dia, ketiga reaktor nuklir itu sudah beroperasi sejak Orde Lama dan awal Orde Baru. Namun memang belum menghasilkan listrik yang digunakan untuk memasok kebutuhan masyarakat secara luas.

Ia menyebutkan salah satu reaktor nuklir yang beroperasi itu adalah Batan yang ada di Jalan Babarsari Yogyakarta. Kawasan ini, ujarnya semula jauh dari permukiman penduduk dan bisnis. "Namun sekarang ada di tengah permukiman padat dan kiri kanannya kawasan pendidikan dan bisnis," katanya.

Meski demikian, tambahnya, tidak ada kekhawatiran dari warga yang tinggal di sekitar reaktor ini. "Pula, belum pernah terjadi hal yang meresahkan masyarakat," imbuhnya.

Reaktor nuklir yang ada di Babarsari ini, sama sekali tidak terkena dampak akibat gempa besar yang melanda Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, tiga reaktor nuklir yang beroperasi itu adalah Reaktor Triga (Training, Research, Isotopes, General Atomics) 2000 di Bandung beroperasi sejak 1965, Reaktor Kartini (Babarsari Yogyakarta, beroperasi sejak 1979) dan Reaktor Serbaguna GA Siwabessy di Serpong, yang beroperasi sejak 1987. "Selama lebih daeri 50 tahun beroperasi, ketiga reaktor tersebut aman dan zerro accident," ujarnya.

Reaktor-reaktor nuklir yang dimiliki Indonesia saat ini lebih banyak digunakan untuk keperluan riset, memproduksi radioisotop dan radiofarmaka serta radioterapi untuk berbagai rumah sakit.

Dirjen Sumber Daya Iptek Kementerian Ristek Dikti Ali Ghufron Mukti menyatakan keheranannya, ketika muncul wacana PLTN, banyak yang ribut dan kemudian melontarkan tentang bahayanya. "Namun tidak pernah disadari bahwa kita sudah mengoperasikan lama," katanya.

Mantan Wakil Menkes di Era SBY ini juga mengemukakan, Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan uranium dan telah memiliki SDM yang berpengalaman untuk menangani reaktor nuklir.

Namun, imbuhnya di masyarakat masih terjadi salah persepsi dan kekurang mengertian tentang reaktor nuklir. "Masih banyak yang memandang dengan cara pandang yang negatif, sehingga menganggap reaktor nuklir itu sangat berbahaya. Ini pandangan yang tidak pas, sehingga perlu dilakukan sosialisasi yang lebih luas," katanya.

Ia kemudian menyodorkan hasil survei di Indonesia yang menunjukkan di atas 70% masyarakat setuju dengan PLTN. Keamanan PLTN, lanjutnya sebenarnya sudah terbukti di Eropa. Ia menunjukkan 70% listrik Prancis dipasok dari PLTN. Demikian pula di negara-negara Eropa lainnya, rata-rata pasokan listrik dari PLTN di atas 50% namun ternyata kita masih berkutat tentang PLTN.

Djarot menambahkan, memang sudah ada yang dapat menerima PLTN. Ia menyontohkan, NTB sudah siap untuk memanfaatkan PLTN demikian pula Bangka Belitung. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya