Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Menyatukan Masyarakat ASEAN lewat Budaya

Dhika Kusuma Winata
03/8/2017 22:15
Menyatukan Masyarakat ASEAN lewat Budaya
(MI/Ramdani)

ASEAN Literary Festival (ALF) resmi dibuka di kawasan Kota Tua, Jakarta, Kamis (3/8). Dalam kesempatan itu, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid menegaskan aspek budaya di masyarakat bawah perlu ditonjolkan untuk menyatukan masyarakat Asia Tenggara.

Menurut Hilmar, ikatan antarmasyarakat kawasan masih tergolong rendah. Berbeda dengan hubungan ekonomi dan pemerintahan antarnegara yang terbilang kuat. Karena itu, tambah Hilmar, diperlukan upaya untuk mencari kesamaan yang lebih dekat lewat kebudayaan, termasuk sastra.

"Ikatan di level (masyarakat) akar rumput penting," ujarnya saat menyampaikan ceramah pembukaan ALF, Kamis malam.

Padahal, kata Hilmar, sejumlah produk kebudayaan di satu negara ASEAN juga berkembang di negara lainnya. Dia mencontohkan kesamaan budaya populer yang ada dalam masyarakat lapisan bawah, seperti literatur Panji.

Cerita Panji tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga hidup di Malaysia, Kamboja, dan Thailand. Cerita itu dikembangkan oleh pengarang yang berbeda-beda dengan nama karakter yang beragam di masing-masing negara. Kepopulerannya bahkan menjadi inspirasi munculnya bentuk kesenian lain seperti tari, wayang, topeng, dan seni rupa.

Selain itu, masyarakat ASEAN juga memiliki kepercayaan yang sama terkait dengan cerita hantu. "Kita berbagi kesamaan soal rasa takut terhadap hantu. Di Thailand ada Nang Nak. Indonesia dan Malaysia punya kuntilanak," tutur Hilmar.

Menyatukan masyarakat di kawasan, lanjut Hilmar, merupakan upaya yang tidak mudah. Pasalnya, kesadaran atas identitas bersama sebagai masyarakat regional tidak sepenuhnya terjadi.

"Menyatukan masyarakat kawasan itu gampang-gampang susah. ASEAN merupakan proyek politik yang belum selesai dan akan terus berproses," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Program ALF Okky Madasari berharap komunitas ASEAN bisa menjadi lebih dari sekadar slogan. "Kami percaya buku dan literatur merupakan cara terbaik untuk membangun identitas bersama," ujarnya.

Pemerintah melalui Kemdikbud, sambung Hilmar, bakal terus mendukung agenda-agenda kebudayaan seperti yang dilakukan ALF. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya