Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA 20 tahun ini, Rohani Daeng Tane, 48, selalu mendampingi para ibu hamil di desanya di pelosok Sulawesi Selatan untuk memeriksakan kesehatan di puskesmas setiap bulan.
Menjelang waktu melahirkan, kader Puskesmas Tamaona, Desa Pao, Kabupaten Gowa, itu mendampingi mereka ke puskesmas kecamatan yang fasilitasnya lebih memadai.
Jarak puskesmas itu dari desanya sekitar 2 kilometer.
Namun, karena kondisi geografis desanya yang terletak di pegunungan, puskesmas itu hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki sekitar 1 jam.
Si ibu hamil pun diangkut menggunakan tandu sederhana.
"Banyak yang malu ke puskesmas apalagi jika kehamilan mereka merupakan kehamilan ketujuh atau lebih. Tapi saya sampaikan, lebih baik periksa agar kita dan anak kita sehat. Kalau malu, saya antar. Pakai tandu, keluarga pasien dan warga yang menggotong," tuturnya dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.
Atas kontribusinya dalam peningkatan pelayanan di bidang kesehatan itu, Rohani menjadi salah satu penerima penghargaan Heroines of Health dari GE Healthcare.
Penghargaan tersebut diberikan kepada 13 perempuan dari 11 negara atas komitmen dan upaya mereka dalam meningkatkan kesehatan di komunitas masyarakat.
"Data WHO menunjukkan secara global perempuan berkontribusi sebesar 75% sebagai tenaga kesehatan di berbagai pelosok wilayah. Namun, sering kali mereka tidak mendapatkan pengakuan dan kisah mereka tidak terdengar," kata Country Manager GE Healthcare Indonesia Hariz Izmee menurutkan latar belakang program penghargaan tersebut.
Pada kesempatan sama, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Eni Gustina menyampaikan apresiasienya terhadap program penghargaan tersebut.
Menurutnya, sosok-sosok seperti Rohani memang sangat diperlukan.
Mengingat, di Indonesia angka kematian ibu (AKI) saat melahirkan masih tinggi.
Rata-rata, 12.375 ibu meninggal setiap tahunnya karena proses kehamilan, melahirkan, dan nifas.
"Karena kurangnya informasi, pengetahuan, faktor sosial budaya, hambatan biaya, dan fasilitas yang belum memadai. Sebab itu, harus ada dukungan agar ibu hamil mau memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan untuk mendeteksi risiko yang mungkin ada." (Ind/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved