Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
Industri perfilman Tanah Air memiliki sejarah panjang yang kaya akan karya-karya fenomenal. Film jadul Indonesia bukan sekadar tontonan masa lalu, melainkan sebuah arsip budaya yang merekam gaya hidup, bahasa, hingga kondisi sosial masyarakat pada eranya. Bagi banyak orang, menyaksikan kembali film-film lawas adalah cara terbaik untuk merawat ingatan dan bernostalgia akan masa-masa indah yang telah lewat.
Era keemasan film Indonesia, terutama pada dekade 1970-an hingga 1990-an, melahirkan banyak sineas dan aktor berbakat yang karyanya tak lekang oleh waktu. Mulai dari drama romantis yang menyayat hati, komedi slapstick yang cerdas, hingga film horor yang atmosfernya belum tertandingi oleh teknologi CGI modern. Berikut adalah kurasi lengkap film klasik Indonesia yang wajib Anda tonton ulang.
Genre drama dan romansa selalu menjadi primadona dalam sejarah sinema nasional. Cerita cinta yang sederhana namun penuh makna menjadi kekuatan utama film-film di kategori ini.
Sebelum demam Dilan melanda generasi milenial, pasangan Galih dan Ratna adalah ikon cinta remaja Indonesia. Film yang dibintangi oleh Rano Karno dan Yessy Gusman ini menggambarkan kisah cinta masa SMA yang polos namun terhalang restu orang tua. Chemistry keduanya yang begitu kuat menjadikan film ini standar emas bagi drama remaja Indonesia.
Film ini adalah representasi gaya hidup anak muda Jakarta kelas atas pada era 80-an. Karakter Boy yang diperankan oleh Onky Alexander digambarkan sebagai sosok yang nyaris sempurna: tampan, kaya, rajin beribadah, namun tetap gaul. Film ini menjadi fenomena budaya pop yang memengaruhi tren busana hingga gaya bicara anak muda pada masanya.
Mundur lebih jauh ke belakang, Tiga Dara karya Usmar Ismail adalah salah satu film musikal terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Film ini menceritakan dinamika tiga saudara perempuan yang tinggal bersama nenek mereka. Restorasi film ini dalam format 4K beberapa tahun lalu membuktikan bahwa kualitas visual dan penceritaan film tahun 50-an ini sangat visioner.
Bicara soal film jadul Indonesia, tidak lengkap rasanya tanpa membahas genre komedi yang kerap menyisipkan kritik sosial yang tajam dibalut humor segar.
Dono, Kasino, dan Indro adalah legenda tak terbantahkan. Film-film seperti Gengsi Dong (1980), Maju Kena Mundur Kena (1983), hingga Pintar Pintar Bodoh (1980) masih sangat relevan dan lucu untuk ditonton hari ini. Kekuatan Warkop DKI terletak pada celotehan spontan dan kritik sosial terhadap birokrasi serta kesenjangan sosial yang dikemas secara jenaka.
Film ini mempertemukan Deddy Mizwar dan Lydia Kandou dalam sebuah komedi situasi yang cerdas. Berbeda dengan komedi slapstick, film ini mengandalkan kekuatan dialog dan situasi yang absurd namun masuk akal. Film ini memenangkan Piala Citra untuk Skenario Terbaik, membuktikan bahwa komedi juga bisa memiliki bobot cerita yang berkualitas.
Sosok Benyamin Sueb adalah ikon budaya Betawi dan perfilman nasional. Dalam film ini, karakter Pengki yang ia mainkan selalu berhasil mengocok perut dengan akal bulusnya yang licik namun jenaka. Lagu-lagu yang dinyanyikan Benyamin dalam film ini pun menjadi hits yang abadi.
Genre horor lawas Indonesia memiliki ciri khas yang sulit ditiru: atmosfer mencekam yang dibangun tanpa jumpscare berlebihan, melainkan melalui cerita mistis yang dekat dengan masyarakat.
Sebelum di-remake oleh Joko Anwar, versi orisinal karya Sisworo Gautama Putra ini sudah menjadi mimpi buruk bagi penonton era 80-an. Film ini dianggap sebagai salah satu film horor paling seram di Indonesia, dengan nuansa religi yang kental sebagai solusi dari teror yang dihadapi keluarga kaya yang jauh dari agama.
Mendiang Suzzanna adalah Ratu Horor Indonesia yang tak tergantikan. Dalam Malam Satu Suro, ia berperan sebagai Suketi, sundel bolong yang berubah menjadi manusia dan menikah. Film ini unik karena menggabungkan unsur horor dengan drama keluarga yang menyentuh, membuat penonton bersimpati pada sosok hantu utamanya.
Menonton kembali film lawas bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga studi apresiasi. Ada beberapa alasan mengapa film-film ini tetap relevan:
Kabar baiknya, Anda tidak perlu lagi mencari kaset Betamax atau VCD bajakan untuk menikmati karya-karya tersebut. Digitalisasi arsip film nasional telah dilakukan secara masif. Saat ini, banyak film jadul Indonesia yang telah direstorasi dan tersedia secara legal di berbagai layanan streaming.
Platform seperti Netflix, Disney+ Hotstar, KlikFilm, dan Bioskop Online memiliki katalog khusus untuk film klasik Indonesia. Dengan kualitas gambar yang lebih jernih dan audio yang telah diperbaiki, pengalaman menonton film legendaris ini menjadi jauh lebih nikmat. Menonton melalui jalur legal juga berarti Anda turut mendukung pelestarian aset budaya bangsa agar tidak punah dimakan zaman.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved