Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP akhir bulan September, ingatan kolektif bangsa Indonesia kerap tertuju pada tragedi sejarah Gerakan 30 September 1965, atau yang lebih dikenal dengan G30S/PKI. Peristiwa ini tak hanya berdarah, tetapi juga meninggalkan jejak yang membekas dalam perjalanan bangsa.
Banyak sineas Indonesia yang kemudian mengangkat kisah ini ke layar lebar, baik sebagai latar cerita maupun sebagai inti narasi.
Tidak mungkin membahas film tentang G30S tanpa menyebutkan Pengkhianatan G 30 S PKI. Disutradarai oleh Arifin C Noer, film ini menjadi salah satu film paling ikonik yang pernah dibuat di Indonesia tentang peristiwa tragis tersebut. Menceritakan bagaimana para jenderal diculik hingga dibunuh, film ini wajib diputar pada era Orde Baru menjelang Hari Kesaktian Pancasila. Meskipun setelah Reformasi, pemutaran film ini tidak lagi menjadi kewajiban, film berdurasi 271 menit ini masih menyimpan nilai sejarah yang tinggi. Tak heran jika film ini meraih penghargaan Citra untuk skenario terbaik.
Baca juga : Moeldoko Sebut Ada Ambisi Eks Panglima TNI
Film dokumenter yang digarap Fanny Chotimah ini memberikan sudut pandang yang lebih humanis. You and I mengisahkan kehidupan Kaminah, 70, dan Kusdalini, 74, dua perempuan yang ditangkap karena diduga terlibat dalam G30S/PKI. Mereka bertemu di penjara dan menjalin hubungan yang erat layaknya saudara. Film ini terinspirasi dari buku foto Pemenang Kehidupan karya Adrian Mulya dan Lilik HS, menghadirkan narasi yang penuh emosi dan perspektif berbeda mengenai korban peristiwa G30S.
Film Sang Penari yang diadaptasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, turut menyinggung latar sejarah G30S. Film yang diperankan Prisia Nasution, Oka Antara, Slamet Rahardjo, dan Dewi Irawan ini menampilkan bagian-bagian cerita yang menggambarkan situasi mencekam di desa kecil pada masa kekacauan PKI. Meski tidak menjadi fokus utama, latar belakang peristiwa G30S tetap menjadi warna gelap yang memperkuat plot.
Surat dari Praha karya sutradara Angga Dwimas Sasongko mengambil latar belakang sejarah tentang pelajar Indonesia di Praha yang tidak dapat pulang ke Tanah Air karena situasi politik yang tidak stabil pasca-G30S. Pemeran utama film ini antara lain Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, dan Rio Dewanto. Dengan latar waktu 1966, film ini menyoroti dampak jangka panjang dari peristiwa G30S terhadap kehidupan para diaspora Indonesia.
Gie merupakan film biografi yang disutradarai Riri Riza, mengisahkan perjalanan hidup aktivis Soe Hok Gie, seorang mahasiswa yang kritis terhadap pemerintahan. Film yang diadaptasi dari buku Catatan Seorang Demonstran ini menampilkan adegan-adegan yang menggambarkan pergolakan politik di Indonesia, termasuk situasi mencekam yang dipicu oleh peristiwa PKI. Diperankan Nicholas Saputra, film ini tidak hanya menghadirkan latar G30S tetapi juga potret pergerakan mahasiswa pada masa itu.
Nikmati pengalaman menonton film sejarah ini secara gratis dan hidupkan kembali kenangan akan peristiwa penting tersebut.(Z-3)
Mark Sonnenblick, penulis lagu di balik kesuksesan film pertama K-Pop Demon Hunters, mengungkapkan bahwa tim produksi sedang mempersiapkan kelanjutan kisah para pemburu setan tersebut
Film 12 Mile ini menyoroti sosok mendiang Mochtar Kusumaatmadja yang menjadi arsitek utama di balik konsep Wawasan Nusantara.
Selain Song Ji-hyo, Accidental Chef dikabarkan tengah mengincar sejumlah nama besar untuk melengkapi jajaran pemain.
Mark Ruffalo menekankan bahwa dirinya tidak memiliki rencana untuk meninggalkan peran Hulk, yang telah ia mainkan sejak 2012.
Aming diperkenalkan sebagai pemeran karakter bernama Tokek, seorang narapidana dengan latar belakang yang kompleks.
Ayu Laksmi mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih kreatif dalam menjalin komunikasi dengan kerabat saat Lebaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved