Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Tony Fernandes: Saya Benci Kartel

Rizky Noor Alam
06/7/2019 00:40
Tony Fernandes: Saya Benci Kartel
Tony Fernandes CEO Group Air Asia(ANTARA/ANDIKA WAHYU)

DI tengah berita maraknya dugaan praktik kartel yang menghantui industri penerbangan Indonesia, CEO Group Air Asia Tony Fernandes berkomentar logis bahwa dirinya membenci praktik kartel tersebut. Sebaliknya dia menyatakan sebagai pribadi yang senang berkompetisi.

“Saya benci kartel, saya suka berkompetisi. Saya ingin berkompetisi dan tidak suka ada kartel dan monopoli. Tapi ingat ya, bukannya saya menuduh ada kartel di Indonesia. Saya tidak bilang itu,” kata Tony Fernandes dalam peluncuran bukunya berjudul Flying High di Jakarta, Kamis (4/7).

Di kesempatan itu, dia berpesan agar seluruh perusahaan penerbangan dapat berbisnis dengan lebih baik dan tidak saling menyerang. Tony pun mengaku tak tahu di Indonesia ada praktik kartel atau tidak. "Yang jelas saya tidak menyetujui praktik tersebut. Saya pro terhadap kompetisi demi konsumen. Janganlah saling menyerang. Jadilah lebih baik,” sarannya.

Pria asal Malaysia berusia 55 tahun tersebut mengaku saat ini tengah fokus pada moto perusahaan penerbangan yang dibangunnya sejak awal yakni Now, everyone can fly yang secara harfiah berarti 'Kini, semua orang bisa terbang'.

"Kami tidak akan menyimpang dari slogan itu, kalau tidak murah lagi, berarti bukan Air Asia,” ujarnya.

Tak mengherankan jika Tony tetap berusaha mempertahankan harga tiket Air Asia murah, meskipun maskapai lain menaikkan harga.

Dalam acara tersebut, Tony menceritakan bahwa sejak kecil dirinya terobsesi pada tiga hal yaitu musik, olahraga, dan penerbangan. Dirinya tidak pernah menyangka bahwa kelak akan memiliki pesawat seperti saat ini.

"Saya punya cita-cita untuk memiliki West Ham United klub sepak bola yang saya dukung, memiliki tim F1, dan memiliki maskapai," kata Tony.

Mimpi-mimpinya tersebut ditulisnya pada usia 13 tahun dan ternyata bisa direalisasikannya berpuluh tahun kemudian. Mulai dari berhasil di dunia musik dengan Warner Group hingga menjadi CEO Air Asia. Tidak hanya itu, Tony juga memiliki Queens Park Rangers dan sempat terjun di dunia F1.

Babak penting
Tak diragukan lagi Air Asia menjadi babak terpenting dalam hidup Tony Fernandes. Dia berhasil menyulap maskapai yang nyaris bangkrut dengan defisit US$1 juta setiap bulan menjadi pemain besar di dunia aviasi di Asia.

"Kondisi saat itu tidaklah mudah, bahkan Air Asia dulunya diprediksi tidak punya masa depan yang jelas," kenangnya.

Tony masih ingat bahwa sebelum menangani AirAsia, maskapai ini hanya punya sedikit rute. Namun, dengan perlahan dan pasti Tony membangun perusahaan penerbangannya dengan tiket murah. "Dan 16 tahun lalu, saya tidak punya pemahaman banyak soal airlines," ujar pria bernama lengkap Dato Anthony Francis Fernandes tersebut.

Semua pengalamannya bergelut meraih kesuksesan dituangkannya dalam sebuah buku memoar berjudul Flying High terbitan Penerbit Kaifa pada awal Maret 2019 itu.(H-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya