Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Seto Mulyadi Rindu Lagu Edukatif untuk Anak

Galih Agus Saputra
14/6/2019 04:40
Seto Mulyadi Rindu Lagu Edukatif untuk Anak
Seto Mulyadi Tokoh Pendidikan, Pemerhati Anak(Dok MI)

PADA 29 Juni mendatang, Indonesia akan memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas). Tema yang diambil tahun ini ialah Hari keluarga, hari kita semua dengan slogan ‘cinta keluarga, cinta terencana’.  

Menyambut peringatan Harganas ke-26, psikolog anak, Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto, tampaknya punya perenungan sendiri.

Ketua Dewan Konsultatif Nasional Komnas Perlindungan Anak itu menyoroti

soal lagu-lagu edukatif untuk anak-anak yang tidak banyak mengalami kemajuan hingga saat ini. Di masa lalu, kata Seto, begitu banyak lagu pendidikan yang mengajarkan hal sederhana, seperti cuci tangan hingga cara untuk mencintai anggota keluarga.

“Ada juga lagu yang liriknya, bangun tidur kuterus mandi, yang artinya mengajak anak untuk tidak malas-malasan. Terus ada juga yang mengajak mereka mencintai lingkungan, seperti di lagu Lihat Kebunku. Itu semua sebenarnya sangat sederhana di satu sisi, tapi juga sangat edukatif di sisi lain. Nah sekarang, anak-anak malah lagunya diajak dewasa, diajak berantakan, diajak pacaran, dan lain-lain,” tuturnya, saat ditemui di Pondok Kelapa, Jakarta, pertengahan Mei lalu.

Lagu anak-anak dulu itu, menurut Seto, sejalan dengan tujuan dari  peringatan Harganas, yakni meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat terhadap pentingnya keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera dalam kerangka ketahanan keluarga. Masyarakat juga harus memahami tentang penerapan delapan fungsi keluarga, yaitu agama, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, pendidikan, reproduksi, sosial-budaya, dan lingkungan.

Lebih lanjut, Seto mengatakan, lagu ialah salah satu elemen penting yang dapat digunakan sebagai media ajar kepada anak. Namun, kontennya harus baik dan sesuai dengan kebutuhan anak sebagai pendengar utamanya. Lagu, tambahnya, cukup ampuh untuk menjelaskan berbagai macam persoalan yang rumit menjadi sederhana, sekaligus mudah dimengerti dan menyenangkan.

"Sebagai contoh, lagu Keluarga Cemara yang dinyanyikan Novia Kolopaking, liriknya sangatlah kental dengan nuansa kebersamaan dan kekeluargaan. Maka dari itu, pendengarnya pun juga akan merasakan sensasi yang sama ketika mencerna makna di dalamnya," jelas Seto.

Peran stasiun tv

Menurut Kak Seto, stasiun televisi berperan amat penting untuk memopulerkan lagu anak. Namun sayangnya, berdasarkan laporan dari Kementerian Kominfo yang dibacanya beberapa waktu lalu, stasiun televisi di Tanah Air tampaknya lebih banyak menampilkan sinetron (31%) ketimbang konten pendidikan yang hanya mencapai 1%.

Persoalan itu, menurut Kak Seto, pada akhirnya juga akan menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua yang ada di Indonesia.

"Kehadiran media sosial juga menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi para orangtua. Sebuah keluarga atau hubungan orangtua dan anak yang tidak didukung simpatik dan persahabatan, akan berbuah pelarian yang  salah satu muaranya ialah media sosial. Bak buah simalakama, media sosial punya begitu banyak manfaat positif, tetapi juga tidak kurang dampak negatifnya," jelas Seto.

Kalau sudah lari ke gawai dan medsos, imbuhnya, yang riskan itu nanti unsur pornografi, kekerasan, narkoba, tawuran, dan segala macam. Semua sudah menunggu, jadi keberadaan keluarga itu harus benar-benar dapat menjadi payungnya seorng anak.

"Marilah, di Hari Keluarga Nasional pada 29 Juni nanti, seluruh keluarga yang ada di Indonesia memperkuat tali yang selama ini mungkin sempat dilupakan, yakni persatuan atau tali kekeluargaan,” seru pemerhati anak itu lagi.

Pencipta karakter si Komo (dari hewan komodo) itu turut berpendapat,  sebuah keluarga yang baik seharusnya juga tidak dapat dipecah belah karena pandangan politik. Keluarga ialah faktor utama yang mendukung proses tumbuh kembang anak. Sebab itu, anggota di dalamnya harus dapat menjaga tali persaudaraan.

Sifat saling menghargai sangat perlu untuk dikedepankan karena hal itu menyugesti anak menjadi pribadi yang lebih baik. Bila perlu sering-seringlah memberikan pujian di setiap hal kecil yang dilakukan anak-anak. Ucapkanlah terima kasih karena anak itu perlu diapresiasi.

"Mendidik anak dengan cinta amat penting karena turut membantu meningkatkan kecerdasan emosional," pungkasnya.  (X-7)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya