Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Gabriela Michetti Disabilitas bukan Penghalang untuk Bahagia

Sri Utami
11/5/2019 01:00
Gabriela Michetti Disabilitas bukan Penghalang untuk Bahagia
Wakil Presiden Argentina, Gabriela Michetti(ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

DISABILITAS bukanlah halangan untuk dapat hidup bahagia. Jangan pernah menyerah dengan ketidaksempurnaan yang dibawa sejak lahir atau yang muncul akibat suatu hal di tengah perjalanan hidup.

Demikian pesan Wakil Presiden Argentina, Gabriela Michetti, 53, saat berbicara di hadapan para penyandang disabilitas dari berbagai komunitas di Kantor Kementerian Sosial (Kemensos) RI, Jakarta, Rabu (8/5).

Michetti yang merupakan penyandang disabilitas berkunjung ke Kemensos untuk berdiskusi tentang pemenuhan hak-hak kaum disabilitas bersama Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, sekaligus memberikan motivasi bagi para penyandang disabilitas.

"Satu hal yang menurut saya paling penting yang telah menjadi pembelajaran bagi saya ialah bagaimana kita memahami bahwa disabilitas fisik dan intelektual bukanlah halangan untuk mencintai dan dicintai," kata Michetti yang berbicara dari atas kursi rodanya.

Pada 1994, Michetti mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya lumpuh sehingga harus menggunakan kursi roda. Dengan kondisinya itu, dia belajar kemandirian dan pantang menyerah meraih prestasi.

"Penyandang disabilitas boleh saja duduk di kursi roda, berjalan dengan bantuan tongkat untuk menentukan arah, atau memakai alat bantu dengar. Tapi jiwa kita harus penuh semangat untuk terus belajar, bekerja, dan menumbuhkan rasa solidaritas dengan sesama," tegasnya.

Obsesi membesarkan anak
Pada kesempatan itu Michetti menuturkan kisahnya ketika awal-awal menyandang disabilitas. Waktu itu di 1994, dia mengalami kecelakaan mobil yang melibatkan benturan pada tulang belakang. Benturan itu menyebabkan kelumpuhan pada setengah badan bawahnya untuk seumur hidup.

"Waktu itu untuk pertama kalinya saya melihat wajah ayah saya begitu kaget, takut, khawatir, sedih. Tapi saya sampaikan kepada beliau, ayah jangan takut karena saya akan tetap bahagia walaupun ada di atas kursi roda," tuturnya.

Menurut Michetti, saat itu, obsesi untuk bisa merawat anaknya yang berusia dua tahun saat itu menjadi kekuatannya, ditambah dukungan orangtua dan teman-teman sekitar. Diakuinya, perubahan pada fisiknya berdampak sangat besar karena ia harus belajar banyak hal lagi, belajar hal-hal baru mengatasi keterbatasan.

"Tapi saya bertekad untuk bisa mandiri agar bisa menjaga dan membesarkan anak saya yang waktu itu berusia dua tahun. Saya harus bisa memandikannya, harus bisa bercanda dengannya, bermain dengannya, memeluknya, sehingga obsesi saya yang terbesar waktu itu ialah bisa bergerak secara mandiri dan menggunakan tubuh saya secara mandiri," paparnya.

Di tahun pertama usia kecelakaan itu, Michetti menjalani hampir setiap waktunya di atas tempat tidur. Akan tetapi, setelah itu ia mulai berlatih melakukan berbagai hal secara mandiri.

"Dorongan terbesar ialah semangat dari diri, juga bantuan dari keluarga yang tetap memperlakukan saya tanpa perbedaan sehingga saya bisa tetap menjadi diri saya sendiri," pungkasnya. (Ant/H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya