Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Media Sosial Jadi Parade Debat Kusir

Dhika Kusuma Winata
18/11/2017 12:00
Media Sosial Jadi Parade Debat Kusir
(MI/Adam Dwi)

PENYANYI Marcell Siahaan, 40, punya kegelisahan soal aktivitas berinternet dan bermedia sosial yang saat ini digandrungi semua kalangan.

Menurutnya, jagat maya ialah dunia yang liar. Pasalnya, hoaks dan ujaran kebencian deras membanjiri media sosial setiap harinya. Pun banyak orang yang berbicara seenaknya tanpa etika. "Kehidupan bersosial media dan internet ini sangat sangat liar. Hoaks bertebaran. Begitu banyak orang yang mendadak melek politik dan melek hukum. Media sosial jadi parade debat kusir," ungkapnya saat ditemui di sela-sela peluncuran lagu Indonesia Bersatu di Jakarta, Rabu (15/11).

Menurutnya, banjirnya berita bohong seharusnya membuat masyarakat untuk lebih hati-hati dan lebih kritis. Masyarakat, kata Marcell, harus acuh terhadap informasi hoaks. Jika mendapati berita yang terindikasi palsu, ujarnya, masyarakat bisa membandingkannya dengan berita lain. Paling tidak publik bisa mengetahui dan memilah mana informasi yang benar dan yang bukan.

"Kita harus mengedepankan kewarasan bahwa membaca berita yang tidak menyenangkan apakah bisa memberikan pelajaran kepada kita. Minimal kita bisa tahu itu berita hoaks. Ke depan kita bisa melihat lagi berita-berita seperti itu sifatnya merusak."
Dirinya menyayangkan hoaks dan ujaran kebencian justru kerap muncul dalam momem pesta demokrasi seperti pilkada Jakarta lalu. "Pilkada menjadikan penyebatan berita-berita bohong yang merusak keberagaman semakin luas. Berita bohong itu menjijikkan. Sebegitu habisnya ide orang untuk menjatuhkan seseorang. Itu persaingan yang menjijikkan menurut saya," jelasnya.

Marcell menceritakan pengalamannya bermedia sosial. Ia mendapati bahwa kalangan berpendidikan tidak luput dari jerat hoaks. Kalangan berpendidikan, sambung Marcell, justru kerap menggaungkan berita bohong. "Ini berbicara mengenai common sense. Yang sedih ialah kawan-kawan yang berpendidikan. Untuk berdebat pun buang-buang waktu. Langsung saya unfriend," kelakarnya.

Dirinya mengingatkan pergaulan dalam media sosial yang begitu bebas sebenarnya juga ada batasannya, yakni hak asasi orang lain. Setiap orang, ucapnya, memang bebas berpendapat, tetapi dibatasi dengan hak orang lain yaitu hak atas informasi yang benar dan kewajiban untuk memberikan infornasi yang benar. "Ini semua ada koridornya. Hak saya dibatasi dengan hak orang lain untuk mendapatkan informasi yang benar dan manusiawi."

Keberagaman itu takdir

Dalam kesempatan itu, Marcell bersama musikus Iis Rodinda, Ahmad Albar, dan Utox Londalo meluncurkan lagu Indonesia Bersatu. Lagu itu diciptakan Iis Rodinda. Marcell berkontribusi dalam proyek tersebut sebagai penabuh drum. Menurut Marcell, lagu itu berangkat dari kegelisahan atas masalah kemajemukan bangsa yang belakangan tengah terganggu.

Ia mengatakan bangsa ini sejatinya merupakan bangsa yang kuat, tapi rapuh akan perpecahan dan mudah tersulut dengan ujaran kebencian dan hoaks. "Lagu ini mengingatkan kita untuk merenung kembali apa yang telah diwariskan para pendiri bangsa. Bahwa apa yang sudah disepakati bersama itu sudah final. Semestinya sudah berpikir dan berbuat agar bangsa ini menjadi semakin kuat dan tidak rapuh." (H-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya