Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Musdah Mulia Kagumi Imam Perempuan

Retno Hemawati
17/7/2017 02:00
Musdah Mulia Kagumi Imam Perempuan
(MI/USMAN ISKANDAR)

AKTIVIS hak perempuan Indonesia, Siti Musdah Mulia, 59, berkesempatan menghadiri Konferensi Internasional tentang Perdamaian di Jerman.

Di sana ia kagum pada imam perempuan yang berada di sinagoge, tempat ibadat ornag Yahudi.

Musdah Mulia tidak sendirian hadir di sana.

Ia bersama dengan Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia, juga perwakilan Muhammadiyah, Hindu, dan Buddha.

Peserta konferensi yang bertema Peace among the people: Interreligious action for peace and inclusive communities itu, selain dari Indonesia, juga hadir lebih dari 100 orang yang mewakili berbagai agama dan datang dari mancanegara.

Sebelum acara yang berlangsung pada 14-17 Juli, para peserta konferensi mengikuti acara kunjungan ke komunitas interfaith dialogue dan rumah-rumah ibadah.

"Sebelum konferensi, ada acara kunjungan ke berbagai komunitas agama. Dimulai dengan mengunjungi komunitas Yahudi dan sinagogenya di Kota Unna. Lalu ke gereja Katolik di Duisburg Marxloh dan kunjungan terakhir ke merkez-mosque (masjid jami) yang berdekatan dengan gereja tadi," kata dia.

Dia kemudian melanjutkan bercerita, di komunitas Yahudi mereka mengunjungi Stumbling Stones, sebuah tempat untuk menyelamatkan para korban kekejaman Nazi.

Sekarang tempat itu berubah menjadi the Saint Bonifatius Retirement and Nursing Home di Unna, Jerman.

Tempat ini akan selalu mengingatkan kekejaman Nazi terhadap orang Yahudi selama Perang Dunia seperti yang terjadi di Auschwitz, Polandia.

Namun, kini tempat tersebut diubah menjadi panti jompo yang sangat menyenangkan dan memanusiakan kelompok manusia lanjut usia (manula).

Rumah masa depan buat para manula, demikian komentar banyak peserta.

"Menarik dicatat bahwa di Jerman semua perilaku kekejaman Nazi didokumentasikan dengan baik. Tujuannya agar generasi berikut dapat belajar untuk menghindarinya sehingga tidak akan pernah terjadi lagi!" kata Musdah.

Dia juga menekankan agar semua bentuk kekejaman yang pernah terjadi dalam sejarah harus diakhiri.

"Hanya dengan cara itu kita dapat membangun hidup harmoni dan bahagia," katanya lagi.

Sinagoge

Dia bercerita juga rombongan sempat mampir ke sinagoge HaKochaw Unna yang dikenal sebagai sinagoge liberal.

Sinagoge ini dipimpin rabi perempuan bernama Alexandra Khariakova asal Ukraina.

"Tentu saja keberadaan rabi perempuan dalam sinagoge ini bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil perjuangan yang sangat panjang, khususnya para perempuan Yahudi sejak 2007."

Dia melanjutkan bercerita, di Jerman sekarang ada tujuh rabi perempuan.

Sebuah progres yg masih harus diperjuangkan komunitas Yahudi di tempat lain, termasuk di tempat lahirnya sendiri, yakni di Palestina.

Selain sinagoge, ia juga mengunjungi gereja Katolik Petershof.

"Gereja ini membuka diri utk melayani kelompok rentan, termasuk para pengungsi dan pencari kerja dari luar Jerman. Aktivitasnya dalam bentuk konseling, pembagian makanan, kursus keterampilan, dan layanan kesehatan."

Terakhir, mereka juga mengunjungi masjid jami yang terbesar di wilayah itu.

"Bangunannya megah dan luas, dikelola orang-orang Turki. Masjid ini pun sangat terbuka dengan aktivitas interfaith dialogue," tutup dia. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya