Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Ketidakakuratan Detektor AI dan Dampaknya pada Hubungan Guru-Murid

Kya San – Jaya, mahasiswa S1 Universitas Airlangga
08/12/2025 16:33
Ketidakakuratan Detektor AI dan Dampaknya pada Hubungan Guru-Murid
Kya San-Jaya(DOK PRIBADI)

DI era digital saat ini, kecerdasan buatan (AI) telah merambah ke dunia pendidikan dengan cepat. Salah satu alat yang semakin populer adalah detektor AI, yang dirancang untuk mendeteksi apakah sebuah tulisan dibuat oleh manusia atau dihasilkan oleh AI seperti ChatGPT. Alat ini sering digunakan oleh guru untuk menjaga integritas akademik, terutama setelah pandemi covid-19 yang mempercepat penggunaan teknologi online.

Namun, di balik manfaatnya, detektor AI sering kali tidak akurat, yang justru memicu masalah baru. Artikel ini akan membahas ketidakakuratan tersebut dan dampaknya terhadap relasi antara tenaga pendidik dan murid, berdasarkan berbagai studi terkini.

Pertama, mari kita pahami apa yang dimaksud dengan ketidakakuratan detektor AI. Detektor ini bekerja dengan menganalisis pola bahasa, seperti pengulangan frasa atau keragaman kata, untuk membedakan teks manusia dari AI. Sayangnya, hasilnya sering keliru.

Ada dua jenis kesalahan utama: false positive dan false negative. False positive terjadi ketika tulisan asli manusia ditandai sebagai AI-generated. Sebuah studi dari Stanford University menunjukkan bahwa detektor AI cenderung bias terhadap penulis non-native English, seperti siswa internasional atau yang berbahasa kedua, karena mereka sering menggunakan frasa berulang atau struktur sederhana.

Bahkan, dalam uji coba, detektor seperti Turnitin salah mengidentifikasi Konstitusi AS sebagai teks AI. Sementara itu, false negative adalah ketika teks AI lolos sebagai tulisan manusia. Turnitin sendiri mengakui bahwa alat mereka bisa melewatkan sekitar 15% teks AI, terutama jika pengguna memodifikasi prompt dengan kata-kata seperti 'cheeky' untuk membuatnya lebih mirip manusia. Studi dari Washington Post menemukan tingkat false positive hingga 50% dalam sampel kecil, sedangkan perusahaan detektor sering mengeklaim angka rendah seperti 1%, tapi realitas lapangan berbeda.

Ketidakakuratan ini bukan sekadar masalah teknis, ia berdampak langsung pada dinamika kelas. Di tingkat universitas, sebuah penelitian dari Education University of Hong Kong menemukan bahwa AI generatif seperti ChatGPT menyebabkan 'erosi kepercayaan' antara mahasiswa dan dosen. Mahasiswa merasa rentan terhadap tuduhan palsu, yang memaksa mereka menghindari alat AI sepenuhnya, meski itu bisa membantu belajar.

Seorang mahasiswa dalam wawancara mengatakan, "Saya takut, jadi saya matikan semua alat AI saat mengerjakan tugas." Di sisi lain, guru menjadi lebih curiga. Survei dari Center for Democracy and Technology (CDT) menunjukkan bahwa 62% guru merasa kurang percaya pada karya siswa sejak munculnya AI.

Hal itu menciptakan lingkungan tempat siswa merasa diawasi, bukan didukung, yang memperburuk hubungan transaksional pasc-pandemi. Seperti yang dicatat oleh Tim Gorichanaz dari Drexel University, siswa kini bekerja secara defensif, sementara guru bergantung pada detektor yang bias, yang justru menargetkan siswa neurodivergen atau dari latar belakang minoritas.

Dampaknya lebih dalam lagi. Di sekolah menengah, seperti yang dialami guru bahasa Inggris Liz Shulman di Evanston Township High School, AI menjadi 'pembatas besar' dalam membangun relasi. Siswa merasa feedback guru kurang berharga karena bisa digantikan AI, sementara guru khawatir siswa hanya fokus pada nilai, bukan pembelajaran.

CDT melaporkan bahwa hanya 19% siswa benar-benar menggunakan AI untuk menulis esai lengkap, akan tetapi 40% guru mengira demikian, yang menyebabkan tuduhan berlebih dan frustrasi keluarga. Ini bisa menimbulkan stres emosional pada siswa, terutama yang rentan, dan meningkatkan ketidakadilan, karena siswa dari sekolah Title I atau dengan kebutuhan khusus lebih sering didisiplinkan atas tuduhan AI.

Secara keseluruhan, relasi guru-murid yang seharusnya berbasis kepercayaan dan dukungan mutual berubah menjadi arena kecurigaan, mengurangi interaksi manusiawi yang esensial untuk pendidikan. Untuk mengatasi imi, sekolah perlu pendekatan yang lebih bijak.

Pertama, berikan pelatihan bagi guru tentang batas detektor AI, agar mereka tidak bergantung sepenuhnya padanya. Kedua, buat kebijakan jelas tentang penggunaan AI yang diizinkan, seperti untuk brainstorming tapi bukan pengganti tugas utama.

Ketiga, modifikasi tugas agar tahan AI, misalnya dengan meminta sumber kutipan akurat atau refleksi pribadi. Libatkan siswa dalam merancang aturan, untuk membangun transparansi dua arah. Guru juga harus meningkatkan literasi AI mereka, agar bisa memandu siswa secara etis.

Pada akhirnya, ketidakakuratan detektor AI mengingatkan kita bahwa teknologi bukan pengganti hubungan manusia. Alih-alih menuduh, pendidikan seharusnya fokus pada pengembangan keterampilan kritis dan etika. Dengan demikian, kita bisa memanfaatkan AI tanpa merusak pondasi kepercayaan antara guru dan murid.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya