Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Jaga Jarak biar Selamat

Tes/E-3
01/12/2015 00:00
Jaga Jarak biar Selamat
(MI/VIA)
ATURAN menjaga jarak tampaknya tidak hanya berlaku bagi pengemudi di jalan raya dengan alasan keamanan.

Di lingkungan kerja, kedekatan relasi antarkaryawan, utamanya bos dengan bawahan, memang perlu diberi batasan.

Itu bukan sekedar saran, melainkan hasil penelitian yang menunjukkan ada efek buruk dari hubungan yang terlalu akrab.

Efeknya bahkan sampai ke penurunan capaian kinerja.

Sekelompok peneliti di Rotterdam School of Management, yang dipimpin oleh Gijs van Houwelingen melihat adanya kecenderungan sang atasan akan berperilaku semena-mena apabila berjarak cukup dekat dengan bawahan.

Kedekatan yang dimaksud juga merujuk pada posisi duduk di ruangan kantor.

Begitu penasarannya para peneliti ihwal korelasi yang dihasilkan dari suatu kedekatan terhadap munculnya tindakan yang tidak profesional, kemudian mendorong mereka membuat simulasi yang seolah mencerminkan lingkungan kerja sebenarnya.

Melalui lima simulasi eksperimental, para peneliti mengeluarkan sejumlah metode untuk menguji hubungan antara jarak fisik dan perilaku di kantor.

Uniknya, perilaku nyeleneh nyatanya tidak hanya dilakukan atasan, para bawahan pun terbuai bertindak tidak etis kepada atasan di balik eratnya relasi.

Pasalnya, para bawahan seolah sudah hapal sejauh mana emosi yang akan dikeluarkan sang atasan.

Van Houwelingen kemudian membuat sebuah analogi untuk menggambarkan hasil penelitian.

"Begini, jika seseorang mudah marah ketika melihat seekor anjing ditendang. Mungkin respons yang dikeluarkan akan berbeda ketika orang yang sama hanya mendengar kabar tanpa melihat," ujar Houwelingen kepada Co Design seperti dikutip dalam laman Dailymail.co.uk, Minggu (29/11).

Urgensi dari menjaga jarak, sambung dia, seseorang akan lebih mudah mengontrol emosi dalam menghadapi suatu perkara.

Simulasi yang dibuat Houwelingen dkk melibatkan 150 mahasiswa dari jurusan bisnis yang memainkan peran dari posisi atasan tertinggi, menengah hingga bawahan.

Para peneliti kemudian memberikan arahan berbeda kepada tiap partisipan untuk sengaja bertindak sopan dan tidak sopan, mana kala ingin menyampaikan laporan pekerjaan kepada sang atasan.

Hal yang sama diamanatkan kepada partisipan yang berperan sebagai jajaran petinggi di perusahaan.

Begitu para karyawan diberikan kesempatan untuk memberi saran kepada bos mereka mengenai perilaku yang pantas terhadap bawahan, tidak mengejutkan bagi mereka yang memiliki kedekatan lantas akan bersuara lebih lantang dengan arah cenderung negatif.

"Kami melihat semakin jauh jarak antara karyawan dan atasan, mereka cenderung segan dan lebih bertindak sopan satu sama lain," ucap Houwelingen.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya