Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Stereotipe Gender yang Bikin Minder

MI
25/11/2015 00:00
Stereotipe Gender yang Bikin Minder
(MI/VIA)
KENDATI sudah era milenium, stereotipe gender masih tetap membelenggu banyak orang, termasuk para remaja.

Penelitian oleh Universitas Oxford baru-baru ini mengungkapkan perempuan remaja di Inggris cenderung kurang percaya diri untuk menjadikan pekerjaan-pekerjaan top sebagai pilihan mereka.

Dari sekitar 4.000 siswi level sixform dua tahun terakhir di sekolah menengah atas, biasanya usia 16-18 tahun yang disurvei, sekitar dua per tiganya meyakini laki-laki akan mendapat gaji lebih tinggi daripada perempuan selepas jenjang universitas.

Dari skala 1 sampai 6, tingkat kepercayaan diri anak perempuan dalam 'mengamankan' pekerjaan elite hanya 3,7, sementara anak laki-laki 4,3.

Kepercayaan diri anak laki-laki sejalan dengan motivasi mereka dalam memilih pekerjaan, yaitu uang.

Sementara itu, anak perempuan memilih pekerjaan yang membuat mereka merasa berharga dan nyaman. Umpama menjadi pendidik atau tenaga medis.

Direktur Pelayanan Karier Universitas Oxford Jonathan Black mengatakan, "Riset terbaru kami mengonfirmasikan diferensiasi kepercayaan diri terhadap pilihan karier bermula sejak usia dini.

"Menurut pakar, pandangan itu pun tidak terlepas dari stereotipe gender 'klasik', yang mengharapkan pria sebagai pencari nafkah utama (breadwinner) dalam keluarga.

"Kita menyelidiki lebih lanjut tentang cara-cara mengintervensi dan membantu siswi untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam berkarier dan memimpin sebuah program untuk menyalakan solusi yang mungkin dapat dilakukan," ucap Black.

Lebih lanjut, studi Oxford mengungkapkan, anak perempuan mungkin sudah sedari belia cenderung membatasi horizon karier.

Alhasil, mereka cenderung memilih pekerjaan dengan jalur masuk informal, seperti pekerjaan bergaji rendah atau kerja magang yang tidak dibayar.

Penelitian Oxford itu melanjutkan riset serupa sebelumnya, tapi dengan responden kalangan mahasiswa. Riset tahun lalu itu pun memperlihatkan adanya kesenjangan gender dalam dunia kerja yang diisi lelaki dan perempuan setelah mereka lulus dari universitas.

Dalam seminar sekolah perempuan, konsultan manajemen Karen Parker berpendapat kultur yang melingkupi pekerjaan-pekerjaan berpenghasilan besar bisa jadi faktor yang memicu keengganan anak perempuan untuk terjun di dalamnya.

Misalnya, pekerjaan-pekerjaan itu didominasi kaum adam sehingga mereka menjadi tidak nyaman. "Secara umum, perempuan punya alasan lain (di samping uang) untuk bekerja. Sementara itu, gaji saya pikir sudah sejak lama jadi penentu bagi laki-laki," ucap Parker. (DailyMail/Mus/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya