SIAPA sangka, dengan mengikuti sebuah sosialisasi, dalam beberapa menit mampu mengubah pola berbelanja seseorang.
Paling tidak, hal itu terjadi pada Beni.
Bapak dua anak dari kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat, itu selama ini selalu mengandalkan uang tunai dalam bertransaksi.
Namun, setelah mengikuti diskusi bertema Uang elektronik enak nyaman dan keren yang digelar Bank Indonesia (BI), paling tidak dia tertarik mulai beralih menggunakan uang elektronik pada berbagai transaksi.
"Kita memang lebih keseringan bayar sambil UUD, uyel-uyel duit," selorohnya dalam diskusi di Jakarta, Minggu (22/11).
Baru hari itu Beni mengetahui banyaknya kemudahan yang ditawarkan uang elektronik.
Selain lebih ringkas, pembayaran dapat dilakukan sesuai dengan jumlah yang ditagihkan, sampai pecahan terkecil.
Tidak perlu repot dengan uang kembalian.
Menurut Beni, seharusnya pemerintah dan perbankan semakin gencar melakukan sosialsasi sehingga makin banyak gerai atau toko yang menerima pembayaran dengan uang elektronik.
BI menyadari minimnya sosialisasi.
Oleh karena itu, otoritas moneter itu mulai mengampanyekan Gerakan Nasional Nontunai ke masyarakat.
Deputi Direktur Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif BI Ricky Satria mengungkapkan banyak masyarakat masih bingung membedakan antara uang elektronik dan kartu debit/kartu kredit yang kerap masih dikenai biaya dalam setiap transaksi.
Terlebih, gerai atau toko yang menerima pembayaran uang elektronik masih terbatas.
Akibatnya, kebanyakan pengguna kartu uang elektronik hanya bertransaksi untuk kebutuhan sehari-hari yang nilai transaksinya relatif kecil, seperti untuk pembayaran parkir, tiket tol, dan berbagai moda transportasi.
Di luar itu, kebanyakan orang cenderung lebih percaya menggunakan uang tunai dalam berbagai transaksi.
Menurut Ricky, transaksi nontunai di Indonesia baru sekitar 26% dari keseluruhan transaksi yang dilakukan.
"Padahal, transaksi ritel di Indonesia itu yang paling tinggi di ASEAN. Itu karena masih banyak orang kita yang bayar apa pun lebih percaya pegang cash," ujarnya.
Ragukan keamanan Ricky menambahkan, banyak masyarakat yang masih ragu menggunakan kemudahan bertransaksi lewat layanan digital.
Kepraktisan yang ditawarkan ditengarai belum cukup mengatasi kekhawatiran dalam aspek keamanan bertransaksi melalui uang elektronik.
"Karena uang elektronik masih diperlakukan seperti uang tunai biasa dan belum ada PIN-nya. BI ke depan mendorong agar perbankan menjadikan uang elektronik seperti rekening tabungan, wajib PIN, dan teregistrasi," papar Ricky.
Perencana Keuangan Aidil Akbar menilai masyarakat perlu terus mendapat edukasi atas berbagai manfaat bertransaksi nontunai.
Penggunaan uang elektronik dia yakini dapat menekan pengeluaran pengeluaran yang tidak perlu secara signifikan.
"Kesulitan orang Indonesia dalam pengelolaan keuangan itu dia enggak tahu uangnya ke mana saja. Istilahnya bocor halus. Begitu keluar dompet, uangnya pecah, dia nanti enggak tahu lagi sisa uang-uangnya tadi ke mana." (E-1)