"PAK Menteri, berapa benih yang akan diberikan secara gratis kepada kita?" ujar Kasmin, 45, dengan lantang kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
"Pemerintah akan menyalurkan bibit gratis untuk kebutuhan 1 juta ha lahan sawah, 15 kg/ha untuk benih hibrida dan 20 kg/ha untuk benih padi inbrida," jawab Amran antusias.
"Wartawan, catat ucapan menteri!" sergah Kasmin.
"Wah, Bapak jangan seperti itu. Seakan-akan mengancam Menteri. Tidak perlu meminta wartawan mencatat," timpal Amran sambil tergelak diiringi tawa hadirin, termasuk di antaranya pemimpin Artha Graha Group Tomy Winata.
Dialog tersebut terjadi seusai panen raya 23,5 ha sawah yang ditanami bibit padi hibrida Bernas F1 yang diproduksi oleh PT Sumber Agro Semesta yang terafiliasi dengan Artha Graha Network di Subang, Jawa Barat, kemarin.
Sebelumnya, Amran terlihat bersemangat saat tiba di area persawahan dengan hamparan padi menguning itu. Dengan mengenakan batik cokelat lengan panjang, celana bahan, dan sandal jepit, ia langsung melompat ke pinggir sawah dan mengamati butiran padi serta meminta Direktur Jenderal Tanaman Pangan Hasil Sembiring untuk menghitung bulir dalam satu tangkai padi itu.
"Produksi padi bibit hibrida hampir dua kali lebih tinggi daripada rata-rata produksi nasional. Bisa 8,5 ton-10,4 ton/ha. Di Subang ini, produksinya 10,3 ton/ha," urainya.
Pihaknya akan mendorong pengembangan benih padi unggul untuk petani. "Sekarang ada benih Bernas, Sembada, dan IPB 3S."
Saat ini, indeks tanam padi di Indonesia baru 1,8 atau panen padi dapat dilakukan 1,8 kali setahun dengan produksi padi sekitar 5,5 ton/ha. Hal itu disebabkan penggunaan bibit padi inbrida yang hasilnya relatif rendah. Sementara itu, bibit hibrida baru mencapai 10% dari total bibit padi di Indonesia.
Namun, dampak El Nino justru menaikkan mutu beras dari medium ke premium. Kondisi cuaca yang kering kerontang, fotosintesis maksimal pada padi, kurangnya serangan hama, dan kadar air rendah membuat beras hasil gilingan menjadi premium. "Yang penting bagi negara kita ialah kuantum jumlahnya cukup. Ini berkah El Nino," katanya.
Direktur Operasional SAS Arviano Sahar mengatakan padi yang dipanen itu ditanam di luar musim tanam yang menunjukkan bibit unggul Bernas produksi PT SAS dapat bertahan dari penyakit dan dampak El Nino. "Produksi bisa di atas 10 ton/ha dengan Bernas Prima. Ini dulu introduksi dari Tiongkok di 2004, tapi sudah kita kembangkan di dalam negeri. Jadi ini produksi dalam negeri," katanya.
Produksi SAS mampu memenuhi sekitar 30% dari kebutuhan bibit unggul padi di Indonesia. "Itu untuk sekitar 300 ribu ha sawah. Harganya Rp60 ribu-Rp 80 ribu/kg. Kebutuhan bibit per ha sekitar 15-20 kg. Di Subang, kami ada 50 ha sawah pengembangan. Secara nasional ada 300 ha sawah," tandasnya. (Iqbal Musyaffa/E-4)