PT Pertamina (persero) telah mengontrak pembelian 1,84 juta kiloliter (kl) biodiesel dari 11 badan usaha produsen bahan bakar nabati (BBN). Biodiesel tersebut akan digunakan untuk kebutuhan pada November 2015-April 2016.
Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang menyatakan pembelian biodiesel dari para produsen BBN menggunakan harga mean's of platts Singapore (MOPS) solar.
"Ini kita ikuti harga MOPS. Total MOPS Rp11 triliun, tapi kalau harga MOPS turun, ya berarti turun lagi," ucap Bambang seusai penandatanganan kontrak kerja sama pengadaan biodiesel antara Pertamina dan 11 badan usaha BBN di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, kemarin.
Bambang mengatakan pembelian biodiesel tersebut untuk memenuhi volume mandatori BBN 15% (B15).
Pembelian dari 11 badan usaha itu bakal dijual untuk jatah biosolar bersubsidi, termasuk untuk PT PLN (persero).
"Ada 63 terminal BBM di 31 kota sudah siap menampung biodiesel. Kita komit ambil volume itu, tinggal pelaksanaanya saja," ujarnya.
Pertamina mencatat telah menyalurkan biodiesel 1,5 juta kl atau setara dengan 13,6 juta kl biosolar pada 2014. Biosolar tersebut mencakup kebutuhan subsidi, nonsubsidi, dan pembangkit listrik.
Pada tahun ini, total penyerapan biodiesel hingga 31 Oktober 2015 mencapai sekitar 300 ribu kl dan ditargetkan dapat mencapai 966.785 kl pada akhir tahun. Target itu setara dengan 5,98 juta kl biosolar.
"Meski demikian, kita minta agar jangan hanya Pertamina dan AKR yang menyerap biodiesel untuk kebutuhan subsidi. Pihak lain juga, karena ini program pemerintah. Karena itu, saya minta juga ke pengusaha biodiesel untuk mendekati lembaga perhubungan dan niaga lain," ujar Bambang.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Wilmar Nabati Indonesia Hendri Sakti berharap kerja sama suplai biodiesel tersebut tidak hanya berlangsung enam bulan mendatang, tetapi bisa berlanjut dalam jangka panjang.
"Enam bulan mendatang, kita harapkan dukungan penuh Pertamina kepada pengusaha biodiesel. Kita berharap kerja sama ini bisa jangka panjang," tutur Hendri.
Wilmar Group tercatat sebagai penjual biodiesel terbesar, yakni 920.411 kl dan direncanakan akan disimpan di 29 terminal BBM. Hendri mengatakan pasokan besar dari pihaknya lantaran kapasitas biodiesel Wilmar yang terbesar dari 11 badan usaha yang ikut menjual biodiesel mereka kepada Pertamina. Tidak impor Ahmad Bambang mengatakan, pada 2016 Pertamina tidak perlu lagi mengimpor solar karena pasokan yang ada masih mencukupi. Dengan adanya mandatori B15 dan B25 untuk PLN, jumlah solar yang dibutuhkan akan semakin sedikit. Bahkan, bila tahun depan mandatori BBN ditingkatkan lagi menjadi B20 dan B30 untuk PLN, stok solar Pertamina akan berlebih.
"Perkiraan kelebihan sampai 400 ribu barel per bulan. Pertamina harus ekspor," ucap Bambang.
Alternatif lain, surplus solar Pertamina bisa dibeli kompetitor di dalam negeri. Opsi-opsi itu, menurutnya, akan didiskusikan dengan pihak Ditjen Migas Kementerian ESDM terlebih dulu. (E-2)