MENTERI Koordinator Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli menyatakan tanpa harus diaudit, kegiatan tender minyak dan bahan bakar mentah (BBM) di Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) sudah pasti merugikan negara.
Ia berkilah hal itu sudah dihitungnya sejak 10 tahun yang lalu.
"Sepuluh tahun yang lalu, Rizal Ramli yang pertama komentar soal mafia migas. Kerugian negara berapa dan sebagainya. Ada hitungannya. Enggak usah pakai audit, sudah pasti merugikan negara," tegas Rizal seusai diskusi bertema Mengawal Nawa Cita transparansi potensi investasi sektor hulu migas, di Jakarta, kemarin.
Menurut dia, mafia migas merugikan negara karena terus mengupayakan impor migas dari Singapura, tidak langsung ke negara penghasil migas.
Pembangunan kilang yang tidak pernah dilakukan lagi sejak 1996 dinilainya menjadi bagian permainan agar Indonesia terus mengimpor.
Lebih lanjut, Rizal meragukan pemindahan proses tender minyak mentah dan BBM dari Petral ke Integrated Supply Chain (ISC) PT Pertamina (persero) bisa mematikan langkah mafia migas.
"Saya enggak begitu yakin itu. Orangnya sama-sama saja," pungkas Rizal tanpa memerinci.
Di kesempatan terpisah, mantan anggota Tim Reformasi Tata Kelola Migas Fahmy Radhi mendesak agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap semua pihak yang bermain di Petral.
Pun, kerugian negara harus dibeberkan kepada publik.
Ia juga meyakini kerugian negara dari hasil permainan tender yang dilakukan di tubuh Petral.
"Penting ada follow up dari audit Petral. Pertama, dikasih ke BPK untuk menentukan berapa kerugian negara. Untuk menelurusi mafia yang diindikasi melakukan tindakan pidana mestinya KPK. Ini masih proses pengkajian KPK," tutur Fahmy ketika dihubungi, kemarin.
Seperti halnya temuan dalam audit forensik oleh PT Pertamina (persero), Fahmy menyatakan timnya mengendus permainan tender yang dilakukan Global Energy Resources (GER).
Adapun keterlibatan pengusaha yang kini juga disebut-sebut dalam kasus pencatutan nama Presiden oleh Ketua DPR Setya Novanto belum terbukti.
"Tapi beberapa sumber yang dipercaya mengatakan MR lah yang mengendalikan GER. Enggak ada bukti memang, makanya kami enggak berani (ungkap)," cetus Fahmy.