Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Terseok-seok Mengejar Kesetaraan

Wan/The Telegraph/E-1
20/11/2015 00:00
Terseok-seok Mengejar Kesetaraan
(MI/VIA)
KAUM perempuan sepertinya tidak dapat menyamai pria dalam kesetaraan ekonomi hingga 2133.

Begitu menurut laporan terkini World Economic Forum.

Berdasarkan Global Gender Gap Report 2015 tersebut, kesenjangan kesempatan perekonomian antara pria dan wanita dalam satu dekade terakhir ini hanya menyempit 3%.

Dengan laju kemajuan selambat itu, perlu waktu 118 tahun lagi bagi kaum hawa untuk mencapai kesetaraan ekonomi dengan kaum adam.

Pendapatan rata-rata wanita pada tahun ini sama dengan level pendapatan kaum pria di 2006.

Ketika laporan tersebut diluncurkan, progres kesetaraan upah antargender bahkan mengendur dalam lima tahun terakhir.

Global Gender Gap Report telah menguji sebanyak 145 negara melalui empat pilar, yakni kesehatan, pendidikan, kesempatan ekonomi, serta kesempatan berpolitik.

Hasilnya, wanita memiliki kesempatan 96%, 95%, 59%, dan 23% ketimbang yang tersedia bagi kaum pria untuk keempat kategori itu.

Terlihat, kesempatan untuk kesetaraan ekonomi dan politik memiliki ketimpangan yang besar.

Dari sisi edukasi, kesenjangan gender hanya terjadi sekitar 4%. Hal itu karena jumlah wanita yang mengejar pendidikan hingga ke level universitas terus bertambah.

Sayangnya, kesenjangan pada perwakilan politik sangat lebar, sekitar 77%.

Hanya dua negara yang berhasil mencapai kesetaraan komposisi di parlemen.

Skor indeks krsenjangan gender dihitung dari nol hingga 1.

Semakin tinggi skor, semakin kecil kesenjangan. Islandia merupakan negara yang paling mampu mempersempit kesenjangan gender dengan skor 0,88.

Negara itu berhasil meningkatkan keterwakilan wanita di parlemen hingga 41%.

Mereka juga memberi kesempatan luas bagi wanita untuk mengisi berbagai posisi pemimpin di sektor bisnis.

Untuk negara di Asia Tenggara, Filipina termasuk yang terbaik.

Negara tersebut berada pada posisi ketujuh dengan skor 0,79.

Adapun Indonesia, jauh berada di posisi 92 dengan skor 0,68.

Dari 109 negara yang termasuk laporan yang sebelumnya dikeluarkan pada 2006, prospek wanita telah memburuk di enam negara, yakni Sri Lanka, Mali, Kroasia, Slovakia, Yordania, dan Iran.

"Keadaan saat ini tampaknya bisa memperburuk kesetaraan di masa depan," ujar Klaus Schwab, CEO World Economic Forum, seperti dikuti The Telegraph, Rabu (18/11).

Menurut Schwab, salah satu penyebabnya ialah perkembangan teknologi melalui revolusi industri keempat yang menggilas pekerjaan tradisional yang banyak dilakukan oleh wanita.

"Dalam hal ini, kita perlu menciptakan sebuah dunia dengan kontribusi wanita menjadi lebih bernilai sebagaimana pria. Kesetaraan gender harus ada di pikiran dan tindakan kita untuk memastikan masa depan kita dipenuhi dengan nilai kemanusiaan, bukan ancaman," pungkas Schwab.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya