Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

RI kian Rakus Lahap Produk Tiongkok

Fathia Nurul HAq
17/11/2015 00:00
RI kian Rakus Lahap Produk Tiongkok
()
NILAI transaksi ekspor yang susut tahun ini terutama disebabkan penurunan kinerja perekonomian Tiongkok, salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

Sebaliknya, meski perekonomian Indonesia juga melambat, pasar domestik dengan rakus melahap produk-produk Tiongkok.

Akibatnya, impor nonmigas dari 'Negeri Tirai Bambu' selama periode Januari-Oktober 2015 melonjak hampir 18 kali nilai impor nonmigas periode yang sama tahun lalu, yakni menjadi US$12,8 miliar dari hanya US$716,3 juta (lihat grafik).

Adapun nilai impor nonmigas asal Tiongkok sepanjang Oktober tahun ini naik 64,39% ketimbang Oktober 2014.

Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, kenaikan impor dari Tiongkok tidak hanya terjadi di Indonesia.

"Peningkatan bukan hanya ke kita, melainkan juga ke Malaysia," tambah Darmin, di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, Tiongkok mendepresiasi nilai tukar dan menurunkan suku bunga acuan untuk mendorong pertumbuhan ekspor.

Sebaliknya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak mampu mengangkat nilai ekspor RI ke berbagai negara.

Darmin berkilah hal itu disebabkan perlambatan ekonomi global dan jatuhnya harga komoditas sumber daya alam yang masih menjadi andalan Indonesia.

Namun, secara kuantitas, volume ekspor di beberapa sektor cukup meningkat.

"Transpor ada peningkatan, alas kaki. Tapi ekspor yang besar-besar perhiasan permata," tutur Darmin.

Badan Pusat Stastitik (BPS) menyebutkan secara umum neraca perdagangan kembali mencetak surplus pada Oktober 2015, yakni US$1,01 miliar.

Jika diakumulasikan sejak Januari, surplus tercatat US$8,16 miliar.

Kepala BPS Suryamin berharap pemerintah dan Bank Indonesia memberi stimulus fiskal dan moneter yang lebih mengena agar pengusaha semakin terpacu.

"Bagaimana supaya pengusaha itu mendapat pinjaman dari bank, lebih murah. Lebih mudah. Kinerja surplus cukup bagus, berarti kinerja nonmigas perlu digenjot," paparnya di sela konferensi pers, di Jakarta, kemarin.

Ekonom dari Universitas Padjajaran Ina Primiana saat dihubungi terpisah mengatakan langkah terbaik ialah membuat skema pembiayaan khusus untuk UKM.

Bunga kredit usaha rakyat (KUR) juga dinilai Ina perlu didorong turun di bawah 7%, bukan hanya sampai 9% seperti yang dijanjikan pemerintah untuk tahun depan.

Adapun untuk membendung serbuan produk impor, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengungkapkan pemerintah mesti menjamin adanya substitusi barang impor dari produk dalam negeri.

Perkuat pasar lokal
Berdasarkan data BPS, nilai ekspor maupun impor Oktober susut 4% dan 4,7% ketimbang September 2015. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani mengatakan pengusaha yang berorientasi ekspor masih menunggu paket kebijakan lanjutan.

Menurut dia, pemerintah juga perlu memperkuat pasar di dalam negeri.

"Karena masalah perdagangan juga bukan hanya dinilai ekspor, melainkan juga bagaimana memperkuat pasar dalam negeri," paparnya.

Di sisi lain, penurunan angka impor memukul pengusaha di sektor logistik.

Ketua Asosiasi Logistik Indonesia Zaldi Masita mengungkapkan pengusaha logistik harus menanggung penurunan permintaan sebanyak 40% ketimbang tahun lalu. (Jay/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya