PEMERINTAH menyatakan beras impor sudah masuk ke Indonesia. Keberadaan beras impor dinilai penting untuk menjaga cadangan beras nasional. "Sudah. Pergi lihat pelabuhan saja, di banyak pelabuhan bukan hanya Jakarta, di tempat lain," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, kemarin. JK menambahkan, impor beras penting sebagai langkah antisipasi untuk menyiapkan cadangan beras nasional yang mencukupi. Apalagi, Indonesia menghadapi musim kering yang lebih panjang dampak dari penguatan El Nino.
Namun, ia tidak menyebutkan berapa banyak beras impor yang masuk. "Program pemerintah swasembada kan nanti tiga tahun, bukan sekarang. Jadi sekarang kalau jadi impor tidak jadi soal dan itu juga untuk kekeringan Anda lihat di mana-mana, masak kita mau korbankan masyarakat," tuturnya. JK juga menyinggung masalah data produksi padi dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang tidak akurat. Seperti diberitakan, Data Angka Ramalan (Aram) II 2015 yang dirilis BPS menyebutkan angka produksi padi 74,99 juta ton gabah kering giling (GKG).
Dari angka itu setelah dikurangi 7,3% gabah untuk penggunaan lain dan susut diperoleh 69,52 juta ton gabah yang siap diolah menjadi beras. Dengan menggunakan konversi gabah ke beras 62,74%, diperoleh produksi beras 43,62 juta ton. JK pernah mengatakan angka konsumsi beras nasional sekitar 27 juta ton. Namun, kondisi ini tidak sejalan dengan pasokan di lapangan dan kenaikan harga beras. "(Impor) bukan demi hanya satu orang untuk jaga citra, tidak. Demi menjaga jangan harga beras naik," kata JK.
Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti juga membenarkan bahwa beras impor yang masuk ialah dari Vietnam. "Tadi Pak Wapres bilang gitu? Ya, sudah berarti benar," kata Djarot, kemarin. Ia menambahkan masuknya beras itu bertahap. "Satu kapal ini isi berapa, yang kecil itu isi paling 4-5 ribu ton. Kalau yang besar paling 20-30 ribu ton," kata Djarot, kemarin.