Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kebakaran Hutan Tingkatkan Emisi Gas Rumah Kaca

(Globalfiredata.org/wri.org/globalforestwatch.org/Dhk/L-2)
07/11/2015 00:00
Kebakaran Hutan Tingkatkan Emisi Gas Rumah Kaca
()
KEBAKARAN hutan dan gambut selama dua bulan terakhir ini menyumbang asap bagi kawasan Asia Tenggara. Kalimantan, Sumatra, Singapura, dan Malaysia menjadi area paling terdampak.  Indonesia, yang kerap dijuluki sebagai paru-paru dunia, kini sesak napas.  Peneliti bahkan menyebutnya sebagai kejahatan lingkungan terbesar di abad ke-21. Total kebakaran hutan dan lahan (karhutla) aktif yang terjadi di Indonesia sepanjang 2015 diperkirakan mencapai lebih dari 100 ribu titik. Menurut penghitungan yang dilakukan peneliti asal Belanda, Guido van der Werf, tingkat emisi harian dari karhutla yang dihasilkan telah melampaui rata-rata emisi harian yang diproduksi aktivitas ekonomi AS yang sekitar 15,95 juta metrik ton CO2 per hari. Van der Werf melaporkan emisi yang dihasilkan akibat karhutla di wilayah Indonesia per 14 Oktober 2015 sebesar 995 juta metrik ton CO2.

Angka itu sama dengan emisi karbondioksida tahunan yang dihasilkan Jerman. Hingga 29 Oktober, jumlah karbon yang dilepas semakin banyak. Diperkirakan, lebih dari 1,5 miliar metrik ton CO2 terbang ke atmosfer akibat karhutla (lihat grafik).  Jumlah itu telah melampaui emisi tahunan yang diproduksi Jepang. 'Negeri Matahari Terbit' itu dikenal sebagai penghasil emisi gas rumah kaca (GRK) terbesar keenam di dunia. Tim peneliti Van der Werf mengembangkan perhitungan kasar emisi menggunakan data satelit dan sistem pemodelan. Jika ditilik berdasarkan rekam jejak kebakaran hutan sejak dekade 1990-an, emisi yang dihasilkan dari karhutla pada tahun ini melampaui karhutla 2006 sekaligus menjadi yang terbesar kedua setelah bencana serupa pada 1997.

Menurut catatan, ada 117.878 karhutla selama kurun waktu Januari-Oktober. Data yang dirilis Global Forest Fire Watch menyatakan lebih dari setengah (52%) area yang terbakar terjadi di lahan gambut, di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Kontribusi kebakaran gambut terhadap emisi GRK tergolong cukup besar. Penelitian yang dilakukan Center of International Forestry Research (Cifor) mengungkap 85% emisi gas rumah kaca yang dihasilkan Indonesia berasal dari alih fungsi lahan. Sekitar 37% dari penggundulan hutan, dan 27% dari kebakaran gambut.

Penyimpanan karbon di lahan gambut memakan waktu yang lama, sekitar 3.300 ton karbon per hektare di lahan gambut setara dengan 2.800 tahun. Selain melepas simpanan karbon, api menghasilkan metana. Jika gambut terbakar, metana yang dihasilkan bisa 10 kali lipat lebih banyak daripada kebakaran pada jenis lahan lainnya. Metana merupakan GRK yang lebih kuat pengaruhnya 21 kali lipat ketimbang CO2. Jika faktor-faktor itu diperhitungkan, dampak kebakaran gambut terhadap pemanasan global diyakini akan menjadi lebih besar.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya