Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Ambidextrous Organization: Seni Menyeimbangkan Cuan Sekarang dan Inovasi Masa Depan

Wisnu Arto Subari
28/1/2026 23:18
Ambidextrous Organization: Seni Menyeimbangkan Cuan Sekarang dan Inovasi Masa Depan
Ilustrasi.(Freepik)

PADA 2026, lanskap bisnis Indonesia tidak lagi memberi ampun pada perusahaan yang lambat. Kita melihat bagaimana raksasa ritel yang gagal beradaptasi dengan commerce berbasis AI berguguran. Startup yang terlalu sibuk 'membakar uang' untuk inovasi tanpa memedulikan profitabilitas juga gulung tikar.

Kunci bertahan hidup di era ini bukan hanya tentang menjadi inovatif, tetapi menjadi ambidextrous. Seperti manusia yang mampu menggunakan tangan kanan dan kiri dengan sama baiknya, ambidextrous organization adalah perusahaan yang memiliki kemampuan ganda: sangat efisien dalam mengelola bisnis saat ini sekaligus sangat kreatif dalam menciptakan bisnis masa depan.

Apa Itu Ambidextrous Organization?

Istilah ini dipopulerkan oleh akademisi Charles O'Reilly dan Michael Tushman. Dalam konteks manajemen modern 2026, organisasi ambidextrous adalah entitas yang mampu memecahkan Dilema Inovator dengan melakukan dua hal yang bertentangan secara bersamaan:

  1. Eksploitasi (Exploitation): Mengoptimalkan produk dan layanan yang sudah ada untuk menghasilkan arus kas (cash flow) yang stabil, efisiensi, dan perbaikan inkremental. Inialah mesin uang perusahaan.
  2. Eksplorasi (Exploration): Melakukan riset, eksperimen, dan mengambil risiko untuk menemukan peluang pasar baru atau teknologi terobosan. Inilah masa depan perusahaan.

Tantangannya adalah kedua aktivitas ini membutuhkan budaya, struktur, dan kompetensi yang sangat berbeda. Menggabungkannya dalam satu atap seringkali memicu konflik internal.

Mengapa Konsep ini Vital di 2026?

Siklus hidup produk di tahun 2026 semakin pendek. Produk yang menjadi primadona hari ini bisa usang dalam hitungan bulan akibat disrupsi AI.

Perusahaan yang hanya fokus pada eksploitasi akan mati perlahan karena produknya tidak lagi relevan. Sebaliknya, perusahaan yang hanya fokus pada eksplorasi akan kehabisan napas karena tidak memiliki pendanaan yang kuat dari bisnis inti.

Perbedaan Mindset: Eksploitasi vs Eksplorasi

Untuk memahami betapa sulitnya menjadi ambidextrous, mari kita lihat perbandingan mendasar antara dua 'tangan' organisasi ini:

Dimensi Eksploitasi (Bisnis Inti) Eksplorasi (Unit Inovasi)
Tujuan Utama Profit, Efisiensi, Kualitas Pertumbuhan, Terobosan, Skalabilitas
Fokus Waktu Jangka Pendek (Saat Ini) Jangka Panjang (Masa Depan)
Budaya Kerja Disiplin, Antirisiko, Prosedural Adaptif, Eksperimental, Toleran Kegagalan
Ukuran Sukses (KPI) Margin Laba, Produktivitas Milestone, Validasi Pasar, Pembelajaran

Tiga Cara Membangun Organisasi Ambidextrous

Para pemimpin bisnis di Indonesia dapat menerapkan salah satu dari tiga pendekatan struktur berikut:

1. Structural Ambidexterity (Pemisahan Struktur)

Perusahaan membuat unit terpisah untuk inovasi (seperti Innovation Lab atau Skunkworks). Tim ini memiliki lokasi fisik, budaya, dan struktur insentif yang berbeda dari kantor pusat, tetapi tetap terintegrasi di level manajemen puncak. Contoh: bank konvensional membuat anak perusahaan bank digital dengan aturan main ala startup.

2. Contextual Ambidexterity (Ambidextrous Kontekstual)

Alih-alih memisahkan tim, setiap individu dalam organisasi didorong untuk membagi waktu mereka antara tugas rutin dan inovasi. Ini mirip dengan kebijakan 20% time yang pernah populer di Google. Di tahun 2026, pendekatan ini banyak dibantu oleh asisten AI yang menangani tugas rutin, memberi ruang bagi karyawan untuk berpikir kreatif.

3. Sequential Ambidexterity (Bergantian)

Perusahaan mengubah fokusnya secara berkala tergantung situasi pasar. Ada masa perusahaan fokus total pada efisiensi (misalnya saat krisis ekonomi) dan ada masa beralih ke inovasi agresif. Namun, metode ini dianggap paling berisiko di tahun 2026 karena perubahan pasar terjadi terlalu cepat.

Peran Vital Kepemimpinan (Leadership)

Menjadi ambidextrous bukanlah masalah struktur semata, melainkan masalah kepemimpinan. CEO dan Direksi harus memiliki kemampuan kognitif untuk menahan dua ide yang bertentangan di kepala mereka sekaligus.

Pemimpin harus melindungi unit eksplorasi dari kanibalisme unit bisnis inti yang seringkali merasa terancam atau iri dengan sumber daya yang diberikan kepada unit inovasi. Di sisi lain, pemimpin harus memastikan unit inovasi tetap membumi dan menghasilkan nilai nyata, bukan sekadar proyek sains.

Kesimpulan

Membangun ambidextrous organization adalah perjalanan yang melelahkan namun wajib. Di tengah ketidakpastian ekonomi global tahun 2026, kemampuan mengeruk keuntungan dari mata uang rupiah hari ini sambil menanam benih untuk panen di masa depan adalah satu-satunya cara untuk memastikan perusahaan Anda tidak hanya menjadi sejarah, tetapi pencetak sejarah.

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya