Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Brand Indonesia Diapresiasi karena Keberanian Menjadi Hijau

Ihfa Firdausya
15/12/2025 17:36
Brand Indonesia Diapresiasi karena Keberanian Menjadi Hijau
Ilustrasi(Dok AIGIS 2025)

PERHELATAN Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) 2025 pada 20-22 Agustus 2025 di Jakarta Convention Center, menjadi momentum penting bagi dunia industri hijau di Tanah Air. Di tengah sorotan terhadap inovasi berkelanjutan, satu langkah bersejarah lahir yaitu Pernyataan Komitmen Bersama Akselerasi Industri Bioplastik Nasional, sebuah deklarasi yang menandai keseriusan pelaku industri dalam memperkuat rantai nilai bioplastik dari hulu ke hilir.

Deklarasi ini diinisiasi oleh Greenhope bersama Asosiasi Material Berkelanjutan Indonesia (AMBI), dengan dukungan organisasi mitra pembangunan dan perwakilan kementerian terkait. Kolaborasi ini bukan sekadar simbol, melainkan langkah strategis menuju penguatan industri bioplastik nasional yang berdaya saing global dan berorientasi pada keberlanjutan.

Sebagai dua penggerak utama ekosistem bioplastik Indonesia, AMBI dan Greenhope memainkan peran vital dalam menjembatani inovasi, kebijakan, dan implementasi industri. Keduanya menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi lintas sektor bisa melahirkan terobosan yang berdampak langsung pada masa depan industri hijau nasional.

Di antara para pelaku yang tampil di acara tersebut, terdapat sejumlah nama menonjol karena langkah konkret dan dampak nyatanya yaitu Suparma, Tessa, dan Dinakara Putra. Ketiganya menjadi contoh bagaimana brand bisa membangun keunggulan kompetitif lewat pilihan hijau.

Bagi Edward Sopanan, CEO PT Suparma Tbk, keberlanjutan bukan hal baru. “Kami sudah komit sejak 2019 menggunakan produk Greenhope,” ujarnya saat berbagi pengalaman di AIGIS 2025.

Sebagai perusahaan yang bergerak di industri daur ulang, Suparma ingin memperluas konsep recycle mereka menjadi lebih hijau dan menyeluruh. “Jadi kami seratus persen komit dengan bioplastik, termasuk penggunaan teknologi Oxium pada kemasan dan laminasi makanan. Ini bagian dari adaptasi kami terhadap target SDGs yakni mengurangi pemakaian air dan bahan yang tidak ramah lingkungan,” lanjutnya.

Langkah ini membuat Suparma bukan hanya dikenal sebagai pemain lama di industri kertas dan kemasan, tetapi juga sebagai pelopor dalam mengadopsi solusi ramah lingkungan. Edward berharap masyarakat juga semakin sadar bahwa produk hijau bukan sekadar tren, melainkan pilihan masa depan.

“Kami ingin masyarakat tahu bahwa kami ini hijau. Dan semoga mereka juga mulai condong ke produk yang lebih green,” tutupnya.

Sementara itu, Sumarsih, perwakilan PPIC dari Dinakara Putra, mengungkapkan bagaimana perusahaannya bertransformasi menuju operasional yang lebih hijau.

“Kami sekarang bisa produksi plastik yang lebih ramah lingkungan. Limbahnya pun tertata dan sudah ada jalur pembuangannya,” jelasnya.

Permintaan dari pelanggan yang makin peduli terhadap lingkungan mendorong Dinakara untuk berinovasi lebih jauh. “Kami pakai bahan dari singkong, ada juga yang dari Oxium,” ungkap Sumarsih.

“Harapannya, plastik yang kami produksi bisa lebih cepat hancur, sekitar tiga sampai enam bulan,” ujarnya menambahkan.

Dengan pendekatan itu, Dinakara Putra berhasil menyeimbangkan kebutuhan industri plastik dengan tuntutan lingkungan yang semakin mendesak.

Beberapa inovasi ramah lingkungan dari Greenhope turut dipamerkan di AIGIS 2025. Salah satunya Ecoplas, bioplastik berbahan dasar tepung singkong hasil binaan petani lokal. Produk ini telah dipatenkan di Amerika Serikat, Singapura, dan Indonesia, serta sejalan dengan Permen PU Nomor 3 Tahun 2013. Ecoplas kerap digunakan untuk shopping bag, sedotan, hingga penutup tempat pembuangan akhir (TPA) yang ramah lingkungan.

Selain lebih aman karena tidak mudah terbakar, Ecoplas juga memperpanjang usia TPA dengan biaya hingga 50% lebih hemat dibanding penutup tanah. Inovasi ini membantu mencegah masuknya air hujan, mengendalikan bau, serta menekan emisi gas metana dan karbon dioksida agar udara lebih bersih.

Produk berikutnya, Naturloop, merupakan kemasan berbasis bahan nabati non-pangan yang ramah lingkungan dan tidak mengganggu ketahanan pangan masyarakat.

Sementara itu, Oxium hadir sebagai bahan aditif yang mempercepat proses penguraian plastik dari ratusan tahun menjadi hanya dua hingga lima tahun tanpa meninggalkan residu mikroplastik.

Dalam catatan resmi Greenhope, kehadirannya di AIGIS 2025 tidak hanya sebagai peserta, tapi sebagai katalis kolaborasi lintas sektor yang diharapkan mampu mempercepat transisi menuju industri hijau nasional.

“Kami percaya, masa depan industri akan dimenangkan oleh brand yang berani berinovasi dan peduli terhadap bumi. Melalui teknologi bioplastik seperti Oxium dan Ecoplas, kami berkolaborasi dengan mitra industri untuk menciptakan sistem yang berkelanjutan mulai dari bahan baku hingga akhir siklus hidup produk,” ujar Co-Founder Greenhope Tommy Tjiptadjaja.

Greenhope menegaskan pentingnya kolaborasi antara sektor publik dan swasta agar solusi ramah lingkungan dapat diadopsi lebih luas.

“AIGIS menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa keberlanjutan adalah strategi bisnis yang membawa manfaat ekonomi dan reputasi jangka panjang,” tambah Tommy. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik