Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Lewat Manufacturing Indonesia 2025, Jepang Perkuat Industri Manufaktur di Indonesia

Heryadi
04/12/2025 11:42
Lewat Manufacturing Indonesia 2025, Jepang Perkuat Industri Manufaktur di Indonesia
Indonesia kembali menjadi tujuan utama investasi dan kolaborasi sektor manufaktur Jepang melalui partisipasi besar dalam pameran Manufacturing Indonesia 2025, salah satu pameran manufaktur terbesar di Asia Tenggara.(Dok. Jetro)

INDONESIA kembali menjadi tujuan utama investasi dan kolaborasi sektor manufaktur Jepang melalui partisipasi besar dalam pameran Manufacturing Indonesia 2025, salah satu pameran manufaktur terbesar di Asia Tenggara. 

Dalam pameran itu, Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang (Japan External Trade Organization/Jetro) menghadirkan Japan Pavilion yang menampilkan 17 perusahaan, sebagai upaya memperkuat jaringan bisnis, memperluas ekspor, dan mendukung peningkatan kualitas manufaktur nasional. 

Langkah ini sejalan dengan ambisi pemerintah Indonesia yang menargetkan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB nasional meningkat menjadi 28% pada 2045, bertepatan dengan usia 100 tahun kemerdekaan. Saat ini, kontribusi tersebut berada di angka 18,3%. 

Untuk mencapai target tersebut, Indonesia perlu meningkatkan produktivitas, kualitas, serta kapasitas rantai pasok lokal.

Presiden Direktur Jetro Jakarta Shinji Hirai menegaskan, Jepang melihat peluang besar untuk mendukung agenda tersebut melalui kolaborasi teknologi dan investasi. Menurutnya, kebutuhan Indonesia untuk memperkuat kapasitas produksi membuka ruang luas bagi masuknya teknologi canggih buatan Jepang.

"Indonesia tengah memasuki fase penting dalam pengembangan sektor manufaktur. Peningkatan produktivitas dan kualitas tidak hanya membutuhkan investasi, tetapi juga transfer teknologi. Melalui Japan Pavilion, kami ingin membantu perusahaan Jepang memperluas pasar sekaligus berkontribusi pada peningkatan kapabilitas industri nasional," ujarnya.

Jetro menekankan, keunggulan produk Jepang tidak hanya terletak pada kualitas mesin dan teknologi, tetapi juga pada layanan pemeliharaan pascapenjualan yang komprehensif. Perusahaan-perusahaan Jepang dinilai unggul dalam memberikan dukungan teknis mulai dari desain, konstruksi, hingga konsultasi terkait bahan baku dan proses produksi.

Di Japan Pavilion, beberapa perusahaan menampilkan solusi manufaktur terkini. Salah satunya adalah PT AQ Business Solution Indonesia, yang menawarkan teknologi berbasis AI dan IoT untuk mengatasi berbagai tantangan di lapangan produksi, mulai dari pengurangan biaya, peningkatan efisiensi, hingga pengendalian kualitas. Teknologi ini juga berkontribusi dalam agenda lingkungan seperti penghematan energi dan netralitas karbon.

Perusahaan lain, PT Daiki Axis Indonesia, menyediakan sesi konsultasi gratis terkait standar baru 2025 untuk pengolahan limbah air. Mereka menawarkan layanan satu atap yang mencakup produksi lokal, distribusi, dan pemeliharaan, sehingga mendukung industri dalam memenuhi regulasi lingkungan yang semakin ketat.

"Kami ingin perusahaan Indonesia memahami bahwa produk Jepang hadir dengan dukungan menyeluruh. Inilah faktor yang membuat teknologi Jepang relevan dan kompetitif di pasar internasional," kata perwakilan Jetro dalam sesi paparan.

Momentum Perluasan Kemitraan
Manufacturing Indonesia tercatat sebagai pameran manufaktur terbesar di ASEAN. Pada 2024, pameran ini menarik 37.520 pengunjung dan menghadirkan 1.371 perusahaan dari 35 negara. Jepang menempati posisi penting sebagai salah satu peserta dengan produk teknologi tinggi yang berfokus pada peningkatan efisiensi industri.

Kategori produk yang paling banyak ditampilkan meliputi mesin perkakas, metalworking, factory automation, industrial hardware, hingga material handling. Mayoritas pengunjung berasal dari sektor manufaktur dan teknis, dengan industri otomotif dan mesin menjadi kelompok terbesar.

Dengan profil pengunjung yang kuat, partisipasi Jepang diharapkan semakin memperluas jaringan penjualan, khususnya bagi perusahaan yang telah memiliki basis di Indonesia. Dari 17 perusahaan peserta, 15 di antaranya merupakan perusahaan Jepang yang sudah beroperasi di Indonesia, sementara dua lainnya hadir untuk mengeksplorasi pasar.

Pada tahun ini, Jetro juga memperkenalkan penggunaan logo Jetro-Japan untuk memperkuat identitas kolektif perusahaan Jepang di berbagai hall pameran. Sejumlah perusahaan seperti PT Yamazen Indonesia, PT Asahi Diamond Indonesia, dan PT Sato Label Indonesia telah menyetujui penggunaan logo tersebut. Lewat logo tersebut, Jetro menargetkan peningkatan jumlah peserta tahun depan.

"Kami ingin meningkatkan visibilitas Jepang sebagai mitra teknologi yang kuat. Logo ini menjadi simbol kehadiran kami yang konsisten dalam mendukung industri manufaktur Indonesia," ujar perwakilan Jetro.

Dengan semakin intensifnya kolaborasi bilateral, sektor manufaktur diprediksi menjadi pilar penting dalam hubungan ekonomi Indonesia–Jepang pada tahun-tahun mendatang. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya