Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT ekonomi syariah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI, Azis Setiawan mengatakan secara umum bahwa potensi Indonesia dengan sumber daya yang berlimpah seharusnya bisa menempati rangking yang lebih baik dibanding Malaysia, Saudi Arabia, dan UAE pada laporan peringkat State of the Global Islamic Economy (SGIE).
"Hal ini menunjukkan adanya gap yang masih besar antara potensi dan harapan. Gap ini tentu lahir dari kebijakan termasuk dukungan regulasi yang belum optimal terkait industri halal secara menyeluruh dari hulu dan hilirnya," kata Azis, dihubungi Sabtu (23/12).
Tentu ini membutuhkan kebijakan terintegrasi dari hulu sampai dengan hilir yang komprehensif dan kuat. Tujuannya agar industri halal Indonesia semakin kokoh dalam rantai pasok halal global.
Baca juga: Lagi Ramai di Debat Cawapres, Apa Itu SGIE?
Kebijakan besar itu misalnya terkait kawasan industri halal dan integrasi keunggulan sumber daya pada banyak wilayah yang seharusnya dibangun secara kuat, terintegrasi dan berkelanjutan, serta dukungan ekosistem baik kebijakan pendanaan, tenaga kerja, regulasi, insentif pajak, network dan pemasarannya yang kokoh.
"Jadi berpikirnya adalah harus membangun kawasan industri halal dalam skala besar yang terintegrasi dengan jaringan UMKM-nya, serta dalam ekosistem yang kuat. Kalau ini tidak dilakukan tentu skalanya akan terbatas, kurang efisien dan kurang optimal. Sehingga pasar halal global yang besar tidak mampu ditarik benefitnya secara besar untuk Perekonomian Nasional, lapangan kerja dan kesejahteraan rakyat kita," kata Azis.
Baca juga: Ganjar Sentil Gibran Soal Penggunaan Istilah Sulit di Debat Cawapres
Dengan sumber daya maritim, pertanian dan SDA yang besar, seharusnya kebijakan industrialisasi sektor halal Indonesia bisa diwujudkan dalam skala luas dan besar. Indonesia memiliki keunggulan untuk bisa dominan dari negara-negara lain, yang sumber dayanya lebih terbatas.
"Tapi ini butuh kebijakan industrialisasi yang sangat serius perlu konsistensi menjalankannya, bukan sekedar retorika semata," kata Azis.
Kunci penting untuk bisa berperan besar, yaitu Indonesia harus membenahi basis produksi halal. Sayangnya satu dekade terakhir Indonesia mengalami declining di basis industri. Perusahaan garmen banyak terpukul, dan ketergantungan impor makin meningkat bahkan untuk kebutuhan pangan.
"Kita mengalami deindustrialisasi, involusi pertanian dan sektor maritime yang potensial juga belum dioptimalkan," kata Azis.
Indonesia perlu serius membangun halal industrial park dengan membangun halal supply chain pada kawasan-kawasan ekonomi dengan jumlah yang banyak sesuai basis keunggulan.
Artinya, produksi barang atau jasa harus dipastikan halal dari hulu ke hilir dengan mengoptimalkan sumber daya yang menjadi keunggulan wilayah Indonesia.
Malaysia misalnya sudah menerapkan lebih dari 20 halal industrial park. Dengan konsep ini, mereka bisa memproduksi barang-barang halal untuk diekspor dan mencukupi kebutuhan makanan, kosmetik, dan fashion halal di dunia.
"Kita sudah memulai juga meski belum optimal progress-nya harus diakselerasi," kata Azis.
Indonesia harus memiliki mimpi untuk menjadi dominan dalam “Global Halal Supply Chain” dan ini butuh kebijakan pemerintah yang kuat dan konsisten. Indonesia juga perlu memperkuat Marketing Industri dan Jasa Halal dengan memperkuat positioning, diferensiasi dan branding (PDB) di pasar internasional. Posisi Indonesia yang sangat tertinggal dibandingkan Malaysia dan Thailand dalam memasarkan dan kampanye industri halal pada level global.
"Secara keseluruhan harus ada perbaikan agricultural supply chain, maritime supply chain, dan supply chain pada SDA sebagai rantai produksi halal kita dan diharapkan menjadi pusat pertumbuhan dan basis produksi baru. Perbaikan ekosistem dan industrialisasi sektor halal butuh kebijakan yang kuat bukan sekedar retorika dan pelaksanaan kebijakan yang juga konsisten," kata Azis. (Try/Z-7)
PT Geo Mining Berkah (GMB), perusahaan konsultan pertambangan, memperkuat perannya dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul di sektor tambang.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berlangsung hampir satu tahun dinilai membawa perubahan besar bagi arah pembangunan nasional.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, menekankan bahwa pekerja migran Indonesia (PMI) bukan hanya tenaga kerja, melainkan juga duta bangsa.
Sepanjang tahun 2025, NBRI mencatat sejumlah capaian strategis, antara lain penguatan kapasitas SDM nasional melalui program pelatihan, Battery School, dan industrial training.
Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia menggelar Indonesia Productivity Summit 2025 pada 12 Desember 2025 di JIEXPO Convention Center and Theater.
Sejak 1990-an, ekonomi global telah bergeser dari berbasis sumber daya alam menuju ekonomi berbasis pengetahuan. Namun, kualitas modal manusia Indonesia masih tertinggal.
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pencabutan izin 28 perusahaan yang terbukti melanggar aturan pengelolaan kawasan hutan dan sumber daya alam (SDA)
Pengikisan kedaulatan atas sumber daya alam tidak hanya merugikan Venezuela, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas hubungan global secara luas.
Perang aspal awal abad ke-20 mengungkap bagaimana intervensi AS, utang, dan perebutan sumber daya membentuk krisis Venezuela hingga kini.
PRAKTISI ekologi dari Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), Maria Ratnaningsih menyoroti arah kebijakan pembangunan nasional yang dinilai semakin menjauh dari prinsip keberlanjutan.
dugaan korupsi besar-besaran di sektor sumber daya alam, khususnya kasus timah, yang sebelumnya diungkap oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin.
TELAH menjadi konsensus dalam sistem ketatanegaraan kita bahwa peran aktif negara merupakan kunci untuk membawa kemajuan sosial dan menjamin kepentingan umum.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved