Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
NERACA perdagangan Indonesia diprediksi bakal tetap membukukan surplus di bulan-bulan ke depan hingga tutup buku 2023. Namun nilai surplus diperkirakan akan berada di level yang cukup sempit karena banyaknya faktor yang mempengaruhi kinerja dagang.
"Ke depan menurut saya neraca dagang masih tetap surplus, tapi memang sangat tipis. Penurunan drastis bulan Mei itu terlalu cepat dan tidak terduga," ujar Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Tauhid Ahmad saat dihubungi, Kamis (15/6).
Kendati diperkirakan bakal menyempit, neraca dagang yang surplus ke depan bakal tetap menyuntik pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kemungkinan defisit neraca dagang di penghujung tahun ini dinilai amat kecil.
Baca juga : Jaga Target Investasi Rp1.400 Triliun di Tahun Politik
Kalau pun defisit, kata Tauhid, tak akan terlalu lebar dan berdampak besar bagi perekonomian Indonesia. Hanya, situasi bakal berbeda jika pada Juni-Juli 2023 neraca dagang membukukan defisit.
Bila itu terjadi, besar kemungkinan sepanjang semester II tahun ini neraca dagang bakal mengalami defisit.
Baca juga : Utang Luar Negeri Indonesia Kembali Alami Penurunan
"Defisit itu kecil kemungkinannya, tapi misalkan berubah, dan Juni atau Juli nanti sudah defisit, ya itu akan jauh lebih buruk dari perkiraan. Jadi game changer itu adalah bulan depan, kalau Juni-Juli sudah defisit, itu akan berat," tutur Tauhid.
"Sumbangan perdagangan internasional terhadap PDB kita akan anjlok. Banyak lembaga internasional juga sudah memperkirakan bahwa ekonomi kita akan di bawah 5% tahun ini. Karena memang faktor eskternal ini tidak bisa ditunda, ditawar," sambungnya.
Sementara itu, ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menilai neraca transaksi berjalan Indonesia bakal mencatatkan defisit yang relatif di tahun ini. Itu akan menjadi pembalikan setelah beberapa tahun sebelumnya mencatatkan surplus.
"Kami memperkirakan current account 2023 mencatat defisit kecil -0,65% dari PDB, dibanding 0,99% dari surplus PDB pada tahun 2022. Kami percaya bahwa hal ini masih dapat mendukung stabilitas nilai tukar rupiah sampai batas tertentu, terhadap latar belakang ketidakpastian global yang tinggi," tuturnya.
Transaksi berjalan yang defisit, kata Faisal, tak luput dari prakiraan perdagangan Indonesia yang diprediksi akan melemah, utamanya dari sisi ekspor. Terlebih, sebagian besar bank sentral terus menerapkan suku bunga kebijakan yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama untuk menjinakkan inflasi yang membandel, yang akan membebani kinerja sektor riil.
Sedangkan impor diprakirakan masih sejalan dengan ekspor di tengah ketahanan ekonomi domestik yang mengindikasikan membaiknya permintaan domestik.
"Dengan demikian, kita terus mengantisipasi surplus perdagangan agar terus menyempit dan membuka kemungkinan neraca perdagangan berubah menjadi defisit lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya," pungkas Faisal.
Diketahui sebelumnya, Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2023 mencatatkan surplus US$0,44 miliar. Surplus tersebut menjadi yang 37 kali secara beruntun sejak Mei 2020. Namun tren surplus menunjukkan penyusutan sejak beberapa bulan terakhir.
"Surplus perdagangan Mei 2023 ini tercatat lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan Mei 2022," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud dalam konferensi pers, Kamis (15/6).
Dari data BPS, surplus dagang pada April 2023 menyentuh US$3,9 miliar. Itu berarti terjadi penyusutan surplus hingga US$3,46 miliar dalam waktu satu bulan. Adapun surplus pada Mei 2023 diperoleh dari nilai ekspor yang sebesar US$21,7 miliar, lebih tinggi dari nilai impor sebesar US$21,3 miliar. (Z-5)
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 kembali mencatatkan surplus signifikan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Triwulan IV 2025 mencapai 5,45%, menandai momentum pembalikan arah ekonomi yang solid.
IHSG mencetak sejarah baru (All Time High) di level 8.859, mengabaikan tensi geopolitik global berkat solidnya data neraca perdagangan dan inflasi domestik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mengalami surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$38,54 miliar atau setara Rp645,7 triliun di sepanjang Januari-November 2025.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp911,16 miliar untuk memberikan diskon transportasi selama periode mudik Lebaran 2026.
Indef menilai outlook negatif Moody’s mencerminkan kenaikan persepsi risiko, bukan pelemahan fundamental, sehingga menekan kepercayaan investor.
TRANSFORMASI sektor manufaktur, khususnya manufaktur padat karya, menjadi kunci utama untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dari sisi pengeluaran, perekonomian Jakarta masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 62,80%, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 33,79%.
Secara tahunan, ekonomi DIY tumbuh sebesar 5,94% (year-on-year/yoy) dibandingkan triwulan IV-2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved