Rabu 25 Januari 2023, 20:55 WIB

Pengamat Prediksi Resesi Ekonomi Global 2023 Benar-Benar Terjadi

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Pengamat Prediksi Resesi Ekonomi Global 2023 Benar-Benar Terjadi

DOK Pribadi.
Diskusi bertema Resiliensi Ekonomi Nasional di Tengah Ancaman Resesi Global, Jakarta, Rabu (25/1).

 

KRISIS keuangan, pangan, dan energi global yang terjadi saat ini dan ditambah dengan tekanan inflasi menjadikan dunia dibayangi dengan ancaman resesi. Dengan ketidakpastian tersebut sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2023 berada pada kisaran 2,3%-2,9%. Proyeksi tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dunia untuk 2022 yang berada pada kisaran 2,8%-3,2%.

Asian Development Bank (ADB) pada September lalu juga telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 dari 5,2% menjadi 5%. Namun begitu ADB masih optimistis dengan kinerja perekonomian Indonesia karena pemulihan ekonomi Indonesia masih berada pada jalurnya.

Peneliti Center of Macroeconomic and Finance at Indef (Institute for Development of Economics and Finance) M Rizal Taufikurahman memprediksi resesi ekonomi global akan benar-benar terjadi pada 2023. Bahkan resesi ekonomi global akan berimbas pada banyak negara, tak terkecuali negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. "Saya kira Indonesia tahun ini secara global memang kondisi ekonominya gelap. Namun gelap dalam konteks bukan gelap gulita, tetapi memang berat untuk menghadapi perekonomian sekarang," ujar Taufiq dalam diskusi bertema Resiliensi Ekonomi Nasional di Tengah Ancaman Resesi Global yang digelar ipol.id, Jakarta, Rabu (25/1).

Meski begitu, resesi ekonomi global tidak begitu berdampak signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional. Apalagi, kata dia, Indonesia telah mendapatkan keuntungan dari berbagai penyebab resesi ekonomi global, seperti pandemi covid-19, perang Rusia-Ukraina, hingga perang dagang antarnegara raksasa, Tiongkok dan Amerika. 

Ekonom Ahli Grup Perumusan & Implementasi, Kebijakan Ekonomi Keuangan Daerah (KEKDA) BI Jakarta, Muhamad Shiroth, mengungkapkan tiga cara yang dilakukan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas dan pemulihan ekonomi di Jakarta. Cara ini dilakukan untuk merespons bauran kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi baik secara internal, seperti tingkat inflasi kembali ke sasaran 3±1% serta defisit fiskal lebih rendah dari 3% PDB. 

"Koordinasi dan sinergi bersama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan berbagai pemangku kepentingan dalam rangka pengendalian inflasi, mendorong pemulihan ekonomi, serta digitalisasi, dan keuangan inklusif," ujar Shiroth. Dalam mempercepat pemulihan ekonomi, misalnya, Shiroth menyebutkan Pemprov DKI Jakarta terus mendorong peningkatan investasi melalui Jakarta Investment Forum dan promosi proyek-proyek potensial di luar negeri yang bekerja sama dengan kedutaan besar negara sahabat. (RO/OL-14)

Baca Juga

AFP

Harga Minyak Global Bergerak Waspada Jelang Pertemuan Pejabat Eropa

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 27 Januari 2023, 14:35 WIB
Di tengah tekanan sanksi ekonomi, inflasi, dan kerusuhan yang meluas, pemerintah Iran dilaporkan telah meningkatkan penjualan minyak ke...
MI/Haryanto

8 UMKM Binaan Terbaik Semen Gresik Terpilih Ikuti Bazar Kementerian BUMN

👤Haryanto 🕔Jumat 27 Januari 2023, 14:10 WIB
PT SEMEN Gresik (PTSG)  melalui Rumah BUMN (RB) Rembang mengirimkan 8 UMKM Binaan Terbaik yang telah  terpilih mengikuti Bazar...
Antara

Kementan Perkuat Mekanisasi Pertanian Guna Hadapi Krisis Pangan Global

👤Ficky Ramadhan 🕔Jumat 27 Januari 2023, 13:30 WIB
Kementerian Pertanian (Kementan) tengah bersiap untuk melakukan intervensi teknologi mekanisasi pertanian guna menghadapi potensi krisis...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya